PENGANTAR SERI TULISAN INDONESIA RAYAAssalamu'alaikum wr.wb. Meski sedikit terlambat kami menyajikan tiga tulisan yang merupakan satu seri, yaitu [1] Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya! [2] Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya! dan [3] Majulah Neg'rinya, Majulah Pandunya!, dalam rangka ikut memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2010. Apa hubungan kesemuanya dengan Islam dan ummat muslim Indonesia? Bukan hanya Pancasila yang memuat nilai-nilai keislaman, namun Indonesia Raya yang asli (yang ternyata terdiri dari tiga kelompok syair atau stanza) pun sarat dengan nilai-nilai luhur Qur'ani. Karenanya, 'membaca' Indonesia Raya —saat negeri ini sangat nyata tengah berseser keadaan, dari Negeri Kesayangan dan Rahmat Ilahi (NKRI) nan damai-subur-makmur menjadi negeri pusaran bala bencana (PBB) yang sarat dengan kemerosotan moral, ekonomi, sosial, politik sampai dengan gejolak protesan alam— tampaknya cukup penting. Pasti ada hikmah pelajaran yang dapat kita ambil; kami mengajak Anda untuk mengkaji atau menyoroti keduanya dengan Al Qur'an. Untuk kali ini, kami sajikan bait-bait terakhir dari masing-masing stanza dalam tiga tulisan berseri. Selamat mengikuti. Bagi yang berminat mengunduh Indonesia Raya asli, silakan klik tautan (link): teks syair dan notasi nada, atau rekaman mp3, maupun video-nya
Jumat, 11 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sinyalemen hadits tersebut memberikan gambaran bahwa: dari tahun ke tahun yang dapat diberlangsungkan dan diperoleh kebanyakan manusia dari kunjungan Ramadhan hanyalah mendatangkan ritual rasa lapar dan dahaga dari puasanya. Tidak ada perubahan dan pembaharuan berarti yang dapat dibukti-rasakan dalam berkehidupan, kecuali yang selalu muncul hanya keluh-kesah atas kesulitan berantai menjalani kehidupan. Seakan hadits tersebut tampil sebagai kaca cermin besar yang menunjukkan puasa kebanyakan manusia layaknya puasa anak-anak. Anak-anak itu berbangga dalam berpuasa agar memperoleh berbagai hadiah yang diiming-imingkan yang kesemuanya bersifat keindahan dan kesenangan nafsu semata. Ketika bentuk keindahan-kesenangan nafsu tidak terpenuhi mereka kecewa putus asa dan perhatiannya lebih terpaku pada kesulitan yang ditemui daripada kasih Ilaahi.
Untuk itu mari sejenak di bulan yang fithrah ini kita tunduk-renungkan diri hadirkan Allah selaku saksi kejujuran, diri bertanya pada nurani-hati. Pada tingkatan puasa apakah yang sudah berhasil kita langsungkan selama ini? Tentunya masing-masing pribadi beriman tidak hendak puasanya dinilai-persepsikam sama dengan puasanya anak-anak, kecuali yang diharapkan dari berpuasa dapat menghantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah. Namun demikiankah yang diperoleh?
0 komentar:
Posting Komentar
Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.