Rabu, 20 Oktober 2010

Bencana-Permasalahan Berantai

Apakah hanya rakyat yang menolak penguasa zhalim? Ternyata alam pun mengadakan perlawanan. Bahkan protesan alam bukan hanya terhadap penguasa zhalim, tapi juga terhadap para ilmuwan yang membantu kezhaliman itu. Kejelasannya ada pada tiga tulisan terakhir. Gambar pada artikel di bawah adalah sajian multimedia. Silakan klik tombol di ujung kanan bawah - Admin.




...dropcap S...

esungguhnya, sebagaimana dijelaskan Allah pada QS 7:96 (وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْالَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah...”), bumi tanah itu tidaklah tandus. Bumi tanah tetap dalam keadaan subur. Hanya saja, sementara waktu kesuburan itu disembunyikan bumi tanah sambil menunggu hadirnya manusia-manusia yang memiliki kemuliaan (buah keimanan murni dan ketaqwaannya). Ketika mereka telah hadir kembali di hamparan bumi tanah yang tampaknya tandus, dengan sendirinya bumi tanah itu kembali pada kesuburannya. Contohnya, ketika Siti Hajar r.a. istri Ibrahim a.s. menemukan hamparan bumi tanah tandus. Sebenarnya bumi tanah itu tidak tandus. Itu suatu pertanda, bahwa pada hamparan tersebut, telah terjadi penggantian atau pembinasaan orang-orang hina. Setelah hadir Siti Hajar r.a. yang memiliki kemuliaan, maka hamparan yang semula ditemukan dalam keadaan tandus, berubah kembali menjadi subur makmur hingga sekarang ini. Dengan demikian, bila pada bumi tanah yang ditempati mulai tampak tanda-tanda ketandusan ―dengan kata lain, alam tidak lagi bersikap ramah― maka itulah pertanda bahwa diperlukannya langkah untuk memperbaiki diri. Bila tidak, waktulah yang akan menentukan datangnya pergantian manusia di muka bumi. Para penyandang ilmu rekayasa dan penguasa berkuasa Allah singkirkan melalui tangan-tangan Allah. Dalam hal ini, bisa jadi alam itu sendiri.

Ya, di sinilah kebodohan yang hingga sekarang ini banyak tidak disadari oleh para penyandang ilmu dan pengusa berkuasa di negeri ini. Bumi tanah negeri yang diciptakan dalam kemuliaan sempurna ini, mereka nodai dengan buah pemikiran keilmuan kaum bangsa Yhd yang telah dihinakan Allah. Bahkan sebenarnya bukan saja manusia kaum bangsa Yhd yang telah dihinakan Allah. Hamparan bumi tanahnya juga ikut menjadi hina. Maka, sudah barang tentu apa-apa yang dilakukan oleh kaum bangsa Yhd untuk mendaya-manfaatkan kehinaan bumi tanahnya, hasilnya tetap hina. Bagaimana sesuatu yang sifatnya hina bisa diterapkan pada tempat kemuliaan?
Bumi tak dapat menerima. Apa akibatnya?

Bumi tanah yang haqiqinya dalam kemuliaan sempurna, akhirnya mengadakan perlawanan tiada henti terhadap para penyandang ilmu rekayasa dan penguasa berkuasa. Bentuk perlawanan bumi ialah bencana dan permasalahan berantai. Haqiqinya Allah menciptakan bumi beserta isinya guna kelangsungan hidup manusia. Segala sesuatu yang berkaitan untuk kelangsungan hidup manusia telah pula Allah cukupkan pada bumi dan isinya. Tercukupinya segala sesuatu yang berkaitan untuk kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini, merupakan bukti nyata dari sikap Allah yang tidak menghendaki manusia hidup diliputi kesengsaraan. Allah mencipta manusia bukan untuk Allah sengsarakan dan bukan pula untuk Allah siksa.

Manusia Allah cipta untuk dicinta seutuh-utuhnya

Cinta itu Allah sendirilah yang menjaganya. Itulah sebabnya agar cinta itu tetap terjaga, tak ternodai oleh berbagai macam kesengsaraan, maka Allah cukupkan bumi dan isinya dengan segala sesuatu yang berkaitan untuk kelangsungan hidup manusia. Segala sesuatu yang telah Allah cukupkan pada bumi dan isinya, tidak lain adalah guna menjaga agar cinta Allah kepada manusia tidak dirusak-rusak oleh berbagai macam kesengsaraan. Segala sesuatu yang telah Allah cukupkan pada bumi dan isinya, haqiqatnya merupakan sarana penjalin cinta atau merupakan sarana pengabdian manusia kepada Allah. Apabila bumi dan isinya ini tidak Allah cukupkan dengan sempurna dengan segala sesuatu untuk kelangsungan hidup manusia, maka dapat dipastikan benang-benang cinta dari Allah tidak mendapat perhatian dari manusia. Perhatian dan kesibukan manusia hanya akan tertuju pada penunjang kelangsungan hidup yang senantiasa dicarinya. Meski bumi dan isinya telah Allah ciptakan dengan segala kecukupan untuk kelangsungan hidup manusia, ternyata uluran benang-benang cinta Allah pada manusia masih juga terabaikan.

Mengapa bumi dan isinya Allah cukupkan dengan segala sesuatu untuk kelangsungan hidup manusia? Pada awal penciptaan, manusia itu bertempat di syurga. Di syurga, segala sesuatu kebutuhannya telah terpenuhi sehingga tidak diperlukan waktu untuk mencari penunjang kelangsungan hidup. Waktu penghuni syurga sepenuhnya hanya digunakan untuk bercinta dengan Allah. Itulah sebabnya ketika manusia Allah turunkan ke muka bumi, kehidupan yang ada di alam syurga Allah cerminkan di muka bumi ini, agar benang-benang cinta antara Allah dengan manusia ciptaan-Nya tetap terjaga.

[Tamat, bagian terakhir dari satu seri terdiri dari tiga tulisan]

Diringkas oleh Taufik Thoyib dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Masyarakat atau Bangsa yang Tercela Menempati Kehidupan di Bumi Tanah yang Tandus”, 14 Rabiul Awal 1419H (8 Juli 1998).

8 komentar:

  1. Ass.wr.wb.... Alhamdulillaah,... keren pak ayatnya bisa didengerin... lagi pula qori'-mya bagusss. Tapi koq gak ada tulisanny asli/huruf arabnya pak. koq langsung terjemahan. tapi gak apa2, semoga blog kita ini bisa istiqomah. Amin. Eep. eepkunaefi@hotmail.com

    BalasHapus
  2. Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh,

    Jazakumullah khairan katsiraa masukan Pak Eep. Iya, alhamdulillah, kami dapat mengunduh (freedownload/legal dari alamat yang tercantum di frame ke-2 gambar, para pembaca Al Qur'an yang baik).

    Tentang sajian tanpa huruf (mushaf), setelah kami pertimbangkan, memang sajian suara lebih kami utamakan. Selain menghemat besaran file, ada pemikiran bahwa asalnya dahulu, Al Qur'an turun kepada Nabi s.a.w. belum tertulis... Juga, karena para pengunjung telah membagi konsentrasi ke audionya, sehingga kalau ditambah dengan harus konsentrasi pada teks huruf qur'an, mereka membutuhkan lebih banyak energi.

    Terakhir, sekedar tambahan, bahwa konsep Bahasa Arab, agak berbeda dengan konsep Bahasa Arabiyyun. Bahasa Arabiyyun adalah bahasa kesemestaan/akhirat (universal). Sedangkan Bahasa Arab adalah bahasa etnis (lughah). Sekali lagi terimakasih perhatian Pak Eep.

    Admin -Glagah Nuswantara

    BalasHapus
  3. kembalilah@plasa.com22 Oktober 2010 18.16

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Bpk/Ibu pengasuh weblog yang saya hormati, smoga sehat selalu, senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Amin.
    Dalam kesempatan ini, ada suatu hal yang hendak saya tanyakan kepada Bpk/Ibu pengasuh weblog Kajian Budaya Ilmu, langsung saja adl sbb:
    Adakah Ridlo Allah itu sifatnya rahasia(kita tidak bisa tahu/tdk bisa merasakan) dan hanya Allah saja yang tahu?
    Selama kita berusaha berpegang teguh pada Al Qur'an dan Hadits, bagaimanakah cara kita merasakan bahwa usaha yang kita/sedang kerjakan berjalan seiring ridlo Allah SWT/diridloi Allah SWT?
    Pernah saya dengar ungkapan bahwa: sebenarnya Allah senantiasa ridlo, hanya saja kita yang seringkali tak pernah ridlo.
    Bpk/Ibu mohon penjelasan lebih lanjut tentang hal tersebut diatas, terkait hidup sebagai pribadi serta hidup di tengah masyarakat/masyarakat yang lebih luas.
    terimakasih sebelumnya.
    wassalamu'alaikum wr. wb

    BalasHapus
  4. Wa'alaikum salaam wr.wb.,

    Apa yang diridhai Allah, harus terlebih dahulu diketahui dengan jelas. Sebagai hamba atau pengabdi Allah, sudah barang tentu manusia sepantasnya ridha terhadap Allah. Ridha Allah jatuh pada manusia yang ridha kepada-Nya, yaitu terhadap kekuasaan, kehendak dan rencana Allah terhadapnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh QS 89:27 --ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً , yang artinya "Kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha lagi diridhai-Nya." Siapakah manusia yang ridha terhadap Allah itu? Ialah, manusia yang telah berkeadaan jiwa tenang (QS 89:27), manusia yag tak lagi terombang-ambing ombak kehidupan dunia (muthma-innah); ia memenuhi seruan Allah untuk dididik-Nya sehingga dapat ridha terhadap Allah, dan Allah pun meridhainya (QS 89:28); ia berdaya-upaya penuh kesungguhan untuk lurus-lempeng istiqomah memerankan tugas hidupnya sebagai hamba Allah (QS 89:29).

    Jadi, kurang begitu penting mengetahui apakah HASIL perbuatan kita diridhai Allah atau tidak, diperbandingkan dengan selalu berupaya meningkatkan kualitas PROSES aktivitas pengabdian kita terhadap-Nya, disertai harapan dan keyakinan penuh Dia membimbing kita agar mendapat ridha-Nya. Perlu direnungkan, jika satu perbuatan kita diridhai Allah, apakah berarti tak ada lagi cacat-kekurangan kita pada perbuatan yang lain? Tentu tidak. Manusia selalu berbuat salah.

    Yang dicontohkan Nabi Muhammad s.a.w. dan telah menjadi sikapnya di hadapan Allah selaku Al-Ghafur dan Ar-Rahiim adalah bahwa beliau "seratus kali memohon ampun dalam sehari". Itulah contoh berendah-hati (tawadhu') dihadapan Allah. Tidak sekali pun berani merasa atau menilai dirinya telah baik atau benar. Bahkan ingin tahu apakah ia telah mendapat ridha Allah pun tidak. Manusia ditauladankan oleh Rasul s.a.w. agar mendudukkan dirinya selaku hamba Allah yang sadar dirinya penuh kesalahan, dan kemudian memohon pertolongan-Nya untuk mengadakan perbaikan sebagaimana janji yang pasti ditepati-Nya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang" (QS 93:4). Dengan itu, manusia semakin hari semakin berkualitas sebagai hamba, sehingga pada akhirnya apapun yang diperbuatnya, didasarkan atau bermotivasi/niyat karena cinta kepadanya pada Allah. Adapun syurga yang dijanjikan, bukan lagi sebagai incaran, tetapi merupakan bahagian dari kepemurahan Allah terhadap dirinya; ia masuk syurga karena perintah dan cinta Allah terhadapnya: وَادْخُلِي جَنَّتِي (QS 89:30).

    Mohon maaf segala kekurangan saya dalam menjawab, semoga Allah tambahi Anda pertolongan untuk menegakkan hidup yang Dia ridhai. Taufik Thoyib

    BalasHapus
  5. kembalilah@plasa.com25 Oktober 2010 00.03

    alhamdulillah...terimakasih atas penjelasan yang telah disampaikan, semoga kita semua dan segenap pembaca weblog ini senantiasa berendah-hati dihadapan Allah, semoga terjauhkan dari sifat menilai diri telah baik dan benar dan tak lupa selalu mendudukkan diri selaku hamba Allah yang sadar dirinya penuh kesalahan dan kemudian memohon pertolongan Allah untuk mengadakan perbaikan. Amin

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah,... sy turut ambil pelajaran. Jadi lebih penting proses dpd hasil ya? Semoga kita termasuk muslim yang masih mau bertaubat di tanah air ini, selalu diberkahi Allah. Amin. Salam dari Tenggarong. Wasalam, Abu Riyadh Sulang.

    BalasHapus
  7. Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Sedikit ikut membincangkan perihal aktifitas(27) gunung(8) berapi(19) bisa kita renungfikirkan Firman Allah SWT:
    "Jika kamu mencari keputusan, maka TELAH DATANG keputusanmu; dan jika kamu BERHENTI, maka itulah yang lebih baik bagimu,..."(QS. 8:19).
    Pesan bagi Penguasa berkuasa: KEPUTUSAN UNTUK BERHENTI!!!
    Wallahua'alam..
    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    BalasHapus
  8. Berhenti dr melakukan kecurangan, penipuan, dan kerusakan!

    kumbokarno@gmail.com

    BalasHapus

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.