Rabu, 05 Mei 2010

Kepastian Kepribadian Manusia Hanya Dapat Diukur dengan Al-Qur’an

...QS 82:8...

dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS.82:8)

Kepastian Kepribadian Manusia Hanya Dapat Diukur dengan Al-Qur’an

...drop capital A...l Qur'an ialah ide Allah, semesta seisinya termasuk manusia adalah realisasi atau perwujudan ide tersebut. Maka, mau tidak mau ukuran kepribadian yang harus ditampilkan manusia adalah ukuran kepribadian qur’ani. Tanpa kecuali, seluruh bagian tubuh manusia merupakan terapan dari keilmuan Al-Qur’an. Bahkan tidak sedikit dari bagian tubuh manusia yang telah cukup jelas, merupakan rangkaian dari huruf-anka Al-Qur’an. Itulah sebabnya dengan sentilan halus Allah mengajak manusia merenung dan berfikir tentang bentukan-kejadian tubuhnya. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa jumlah terbesar manusia banyak tidak sadar, apalagi mengerti rangkaian tubuh yang ada pada dirinya sendiri. Hal itu diisyaratkan oleh Surah Al Infithaar Ayat 8 di atas. Apakah Al Qur'an berfihak?

...Asian kids...

Al-Qur’an tidak berfihak pada suatu pandangan-pendapat manusia, justru Al-Qur’an memberikan penyelesaian atas berbagai silang pendapat yang terjadi untuk kesetimbangan semua fihak, dengan cakupan kesemestaan pula. Ukuran kepastian kepribadian manusia dari Al-Qur’an akan mempermudah dan menghantarkan manusia meraih jenjang kesempurnaan hidup. Sebaliknya, ukuran kepribadian manusia yang tidak-pasti, pasti cenderung membawa hidup dan kehidupan manusia pada tingkat kehinaan bahkan merusak tatanan ketenagaan hidup semesta. Haqiqat kepribadian itu adalah bagian dari wujud kesempurnaan dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Manusia belum dapat dikatakan selaku makhluq paling sempurna, jika pada dirinya tidak tumbuh-berkembang nilai kepribadian Qur’ani. Sedangkan kesempurnaan itu sendiri merupakan bagian dari fithrah manusia. Siapapun manusianya, ia pasti ingin menampilkan suatu kepribadian. Sayangnya, penumbuh-kembangan nilainya banyak yang bersandar pada pandangan-pendapat dari hasil olahan-rekayasa kaum materialistis. An ulema teaches AL Qur'anPadahal jauh sebelum berkembang berbagai macam buah pemikiran tentang kepribadian manusia, Al-Qur’an lebih dahulu memberikan ukuran pasti tentang kepribadian manusia. Bahkan Al-Qur’anlah yang mula-pertama mengajak manusia tampil berkepribadian sekaligus berbudaya. Tegasnya, Islamlah yang melahirkan nilai kepribadian dan budaya pada manusia. Sejarah membuktikan sebelum Al-Qur’an diturunkan dan Nabi Muhammad s.a.w. diutus, manusia khususnya di belahan dunia Eropa masih terbelenggu oleh kegelap-bodohan berfikir. Mereka tidak mengenal budaya, apalagi kepribadian. Yang ada pada mereka hanya hidup laksana binatang tanpa kendali dari kaidah pasti.

Mengingat demikian buruknya dampak hidup tidak berkepastian, maka sebagai bkti salah satu bentuk kepemurahan kasih-sayang Allah, manusia dicipta-Nya dalam keadaan sempurna-berkepribadian sekaligus perjalanan hidupnya dibimbing-arah agar selalu berketepat-bijak-pastian meraih tingkat kesempurnaan. Perasaan-hati siapakah yang tidak akan tergugah-getar oleh kelembutan pancingan sifat dan sikap Allah yang demikian luhur dan indah-Nya. Sehingga muncul dorongan kuat dari nurani-hati ungkapkan kata dengan sejujurnya: “Tiada kasih dan sayang yang paling tulus dan luhur-abadi, kecuali ketulusan dan keluhuran-abadi kasih-sayang Allah”. Setetes embun cinta sebagai penyejuk-segar Dia Allah jatuh-lekatkan pada hati. Bukti lain dari kesempurnaan cinta Allah yang dilangsungkan kepada manusia adalah: “Menjaga-pelihara manusia agar berketetapan dalam ruang-lingkup berkepribadian Qur’ani”. Tanpa berkepribadian Qur’ani, derajat manusia pasti akan menjadi hina. Itulah bagian dari nilai kesempurnaan manusia yang senantiasa dihimbau-langsungkan Allah kepada manusia.

Untuk hal itu diturunkanlah Al-Qur’an selaku alat pengendali atau obat-penawar bagi nafsu yang selalu berkecenderungan kuat ke arah kejahatan-hina melepas-campak nilai kepribadian Qur’ani. Sekaligus Al-Qur’an menjadi rahmat bagi kehidupan alam semesta sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya QS.17:82.

...QS 17:82...

Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian. (QS.17:82)

Sudah barang tentu obat yang dimaksud tidak hanya dalam pengertian sempit sebatas penyakit fisiq-jasadiyah. Namun jauh dari itu yang dimaksud adalah obat bagi penyakit pandangan hidup maupun pandangan keilmuan masyarakat jahiliyah, yaitu suatu masyarakat yang tidak memiliki nilai kepribadian karena terbelenggu pola-tradisi berkehidupan laksana binatang tanpa tata-aturan dan ukuran kejelas-pastian. Pola-tradisi kehidupan demikian itulah yang hingga sekarang ini terus dilanjut-langsung-kembangkan Yhd dengan sarana-utama tempat penggodokannya adalah kampus. Dapatlah dikata hingga sekarang ini kampuslah yang menjadi ajang utama tempat pelepasan kepribadian Qur’ani. Adapun Islam tinggal sebuah nama tanpa ada aplikasi yang nyata dalam berkehidupan Qur’ani. Disadari ataupun tidak, itulah kenyataan yang kini berlangsung dan berkembang pesat. Hal ini tidak lain disebabkan masyarakat Islam telah jauh berpaling dari isi kandungan Al-Qur’an. Senada dengan hal tersebut Allah menjelaskan dalam firman-Nya QS.25:30.

...QS 17:82...

Berkatalah Rasul: “Ya Robbku, sesungguhnya qaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak dipedulikan”. (QS.25:30)


Benarkah masyarakat Islam telah meninggalkan Al Qur’an? Silakan mengikuti lanjutan kajian ini pada tulisan berjudul: ”Kepribadian Luhur Negeri-Bangsa Indonesia”. Artikel ini merupakan penulisan ulang yang dikerjakan oleh Taufik Thoyib dari Muqaddimah buku “Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia” (1422H) buah pena Ki Moenadi MS almarhum, semoga ridha Allah tercurah kepadanya, amin – Admin.





0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.