Senin, 07 Juni 2010

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!

...QS 102:1-4...



Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu); dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (QS 102:1-4).

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!

...drop capital B...ait terakhir Kelompok Syair (stanza) 1 Lagu Kebangsaan Indonesia Raya itu menyuratkan bahwa yang pertama dan lebih utama untuk dibangun adalah jiwa, kemudian baru badan. Jiwa baru mampu bangun jika nafsu syahwati telah bertekuk lutut pada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan arah yang ditunjukkan oleh-Nya, selaku Rabb Yang Maha Bijak Mendidik manusia. Apa yang dimaksud dengan jiwa? Jiwa adalah satu kesatuan unsur daya potensi ketenagaan dalam diri manusia, yang mewujud dengan suatu tata susunan dan jalinan tertentu. Ruh, rasa, hati, aqal, dan nafsu dalam diri manusia adalah unsur daya potensi yang membentuk jiwanya. Dengan demikian, sifat keadaan nafsu cukup menentukan karena hanya aqal dan nafsu sajalah unsur daya potensi ketenagaan dalam diri manusia yang “belum siap pakai”. ‘Aqal dan nafsu memerlukan olah-lanjut melewati pendidikan yang tepat-guna, yang bersesuaian dengan fitrahnya.

Bila nafsu manusia tetap tercela, maka jiwanya pasti menderita, karena jiwa manusia berfitrah suci. Kesuciannya terjaga apabila manusia serba taat terhadap proses pendidikan yang dilangsungkan oleh Allah pada dirinya, yang tak lain adalah untuk menaikkan harkat-martabatnya, sebagaimana yang ditegaskan firman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-keturunan Adam, ...dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS 17:70). Sebaliknya, jika menentang proses pendidikan Allah itu, maka kesucian jiwanya pasti tercemar berat oleh dosa.

PharaohApakah yang mencenderungkan manusia bermaksiat terhadap proses itu? Tak lain adalah nafsu, yang selalu mengajak pada perbuatan jahat (amaratum bisuu’), sebagaimana dijelaskan dalam firman Surah Yusuf Ayat 53. Dalam kehidupan nyata, nafsu tiap-tiap pribadi akhirnya akan terhimpun menjadi nuasa kemasyarakatan atau karakter sosial. Dalam hal ini, tentu saja tiap pribadi mempunyai andil: menjadikan nuansa kehidupan bersama itu bertambah buruk atau bertambah baik. Bisa saja sesuatu kaum bermaksiat bersama terhadap Allah. Salah satu contoh yang ditunjukkan dalam Al Qur’an ialah kaum Fir’aun. Lalu apa kemaksiatan bersama bangsa Indonesia ini terhadap Allah? Keinginan untuk bermegah-megah, sebagaimana yang diisyaratkan oleh firman Allah pada bagian pembukaan di atas: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur (QS 102:1-2).

Apa yang telah dilalaikan nafsu-nafsu bangsa ini?

Bahwa tujuan hidup yang sesungguhnya ialah bukan kemegahan hidup di dunia, melainkan keselamatan di akhirat. Jika bermegah-megah di dunia, berarti tolok ukur keberhasilan hidup ialah dunia materi. Untuk itulah bangsa ini menjadi terdorong bermegah-megah dengan harta dan kemewahan. Sudah menjadi hukum alam, bahwa mempertuhankan materi duniawi pasti akan menjadikan sifat dengki seorang manusia beralih menjadi sifat buas dan kejam, sebagaimana Qabil. Kita tahu bahwa kedengkian Qabil membuatnya tega membunuh saudara kandungnya sendiri Habil hanya karena tak senang persembahannya yang secara material lebih berjumlah lebih banyak ditolak, sedangkan Habil yang persembahannya lebih sedikit namun ikhlas, diterima oleh Allah. Demikianlah bahaya nafsu bila tak terdidik.

PharaohSebagian besar pribadi-pribadi bangsa ini menjadi sangat mementingkan dirinya sendiri, egois-materialistik. Di antara sesama anggota masyarakat, tak ada lagi tepa-salira atau saling menenggang didasarkan rasa saling berkasih sayang. Di antara satu anggota keluarga, tak jarang timbul perpecahan tajam, bahkan penduduk suatu desa saling serang dengan desa tetangganya dalam tawuran antardesa, antarsekolah, bahkan antaranggota dewan badan negara. Di masa lalu hal itu boleh dikatakan sangat jarang terjadi. Maka jelaslah kiranya, egoisme yang kini makin kuat menjadi ciri bangsa ini, menjadikan kesatuan Indonesia makin mudah dipecah belah oleh para pendengki pihak asing demi meraih hasrat mereka untuk menguasai kekayaan tanah-air kita yang makmur-subur.

Penyakit cinta dunia dan takut mati

Di bidang ekonomi, jalan yang paling mudah ditempuh untuk hidup dengan bermewah-megah ialah dengan cara berhutang, tanpa peduli siapa yang akan membayar dan apa dampaknya bagi alam tanah-air potensi negeri ini. Tentu saja, hutang luar negeri membuat Indonesia kini sangat mudah didikte dan ditentukan oleh pihak asing. Indonesia kini ibarat terkubur di dalam liang lahat yang digalinya sendiri. Inilah keadaan yang diisyaratkan Al Hadits (riwayat Tsauban r.a., mantan pembantu Rasulullah s.a.w.), bahwa Rasul berkata: "Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan". Inikah yang terjadi pada kelompok muslim yang merupakan sebagian sangat besar dari berpenduduk Indonesia? Kenyataannya, muslim Indonesia tepat pula seperti yang dinyatakan oleh hadits ”bak buih di atas air bah” (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari, diarah-tentukan nasibnya, didikte, dan dikendalikan). Apakah penyebabnya?

Hadits menjelaskan, bahwa keadaan itu karena ”Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian." Yang dimaksud penyakit wahn dalam hadits itu ialah "cinta dunia dan takut mati," atau berarah kehidupan materi belaka. Lebih jauh, yang dimaksud ”takut mati” bukanlah hanya mati jasad saja. Tetapi bilamana dalam menegakkan agama pada diri dan lingkungannya, seseorang takut kehilangan nama baik, popularitas, simpati, perhatian, penghargaan, atau pengakuan masyarakat atas keberadaan dirinya, itulah hakikatnya sikap ”takut mati” dalam perjuangan. Begitu pula dengan takut kehilangan penghidupan, kekuasaan, pangkat-jabatan-kedudukan, atau kemuliaan duniawi lain, adalah termasuk ”takut mati”.

Berbagai dalih ”perbandingan hutang terhadap potensi ekonomi” dapat disusun oleh pandangan logika-nafsu subjektif untuk mengatakan bahwa posisi hutang Indonesia masih ”aman”. Namun jika yang disoroti adalah dampak akhir dari pemanfaatan modal hasil hutang itu terhadap masyarakat-manusia dan masyarakat-alam kesimpulannya sangat berbeda. Kerusakan lingkungan hidup yang berlingkup lokal sampai dengan bencana yang lebih luas adalah fakta tak terbantahkan. Tidak perlu dinyatakan ulang di sini, ketidak-adilan yang berlangsung karena ada pertanyaan lain yang lebih penting: Apakah keberhasilan hidup hanya diukur dari mata-kepala logika-nafsu? Apakah mentalitas luhur masyarakat manusia dan kesinambung-lanjutan kehidupan masyarakat alam bukan merupakan ukuran keberhasilan hidup pula?

Bukan sistemnya, bisa jadi manusianyalah yang perlu bermutu

Jika kesalahan berpola hidup wahn atau "cinta dunia dan takut mati" itu ditaubati, barulah ”badan Indonesia” dapat menghimpun kekuatannya untuk bangkit kembali. Badan-badan negara menurut UUD 45 yang berasaskan pada Pancasila khususnya Sila ke-5 dan Sila ke-4, pasti berfungsi kembali jika ditangani oleh mereka yang telah bermentalitas jauh dari syahwat untuk hidup bermegah-megah berasaskan individualisme. Dengan sendirinya, jauh pula dari penindasan dan ketidak-pedulian terhadap kaum lemah, sebagaimana yang dicontohkan Nabi s.a.w. pada zaman pemerintahannya di Madinah: terhadap kelompok yang sangat minoritas sekalipun tak ada kata menindas, meskipun konsep Islam-lah yang menjadi pedoman. Masyarakat Madinah pun majemuk, dan pada setiap komponennya, diberikan hak berpenghidupan yang sama. Demikian pula terhadap alam, makhluk yang menempati posisi terlemah, karena tidak dikaruniai akal. Namun demikian hukum ditegakkan bila terjadi pengkhianatan terhadap kesepakatan berkehidupan bersama dengan damai.

Bila prinsip di atas dapat diraih kembali sebagai fitrah bangsa ini, maka di Indonesia, jiwa musyawarah yang berasaskan saling memberi (bukan saling meminta) dan menghargai sebagaimana diisyaratkan oleh Surah Asy-Syuraa, akan meresap ke dalam kehidupan bermasyarkat, berbangsa, dan bernegara. Dalam budaya politik berkebangsaan, nilai-nilai inilah yang akan memancar dengan kerangka Sila ke-3 Pancasila. Mustahil mewujudkan persatuan-kesatuan jika masih ada penindasan antarsesama komponen bangsa; mustahil pula mewujudkannya tanpa asas saling memberi kasih-sayang. Bilamana terlaksana, barulah semboyan”NKRI harga mati” dapat menjadi kenyataan.

Jika badan-badan negara sekarang tampak gagal berfungsi, bukan berarti konsepnya (UUD 45) yang salah. Manusia pelaksananyalah yang belum dapat memenuhi syarat untuk menjalankan badan-badan itu dengan baik. Sejarah kemerdekaan Indonesia membuktikan bahwa keadaan terjaga dari syahwat untuk hidup individualistik kemudian saling memberi, telah melahirkan barisan yang kuat-rapi dalam satu kesatuan perlawanan terhadap kekuatan penjajah asing. Tentara Rakyat Indonesia (TRI) adalah kata yang sangat tepat untuk menggambarkan keterpaduan unsur semangat perlawanan rakyat yang tak kenal kata surut-melemah-menyerah dan kekuatan militer yang cerdik-kuat, tepat-berbuat dengan cepat-bijak. Dengan kata lain ada keterpaduan jiwa dan badan!

Tuli, bisu, dan buta.

Masyarakat Indonesia kini tampak makin cenderung berkeadaan tuli tak mau mendengarkan kebenaran, atau bisu tak berani menyuarakannya. Faktanya sangat jelas: makin banyak dan makin bermutu syiar dan da’wah islamiyah, tetapi makin banyak dan makin berbahaya pula kejahat-maksiatan. Sekiranya sudah tidak tuli dan bisu dan sudah berani menyuarakan kebenaran haqiqi, bisa saja sesorang masih buta tak dapat mengambil pelajaran dari padanya, karena ia terhalang pamrih-pamrih dirinya pada perjuangan itu. Pamrih agar jasanya diakui, namanya dikenang, garis keturunannya dingat dan dimuliakan masyarakat, ilmu dan kepandaiannya dikagumi, dan seterusnya. Pamrih-pamrih itu menghijab-halangi dirinya dengan Allah.

Indonesia kini mutlak memerlukan gerakan perbaikan akhlaq atau moralitas untuk bangkit dari penyakit materialisme. Menyembuhkan dan mengentaskan bangsa ini dari penyakit orientasi hidup materialistik, itulah tugas utama pemimpin masa kini! Bila berhasil menerapkan konsep di atas, maka Indonesia Raya yang akan muncul ialah Indonesia Raya yang merdeka dari ketergantungan politik-ekonomi pihak asing; Indonesia Raya yang bangun dari kubur berkehidupan duniawi megah melimpah tapi menelantarkan bahkan menindas kaum lemah. Muslim Indonesia sudah semestinya menjadi pelopor bangsa ini untuk sembuh dan bangkit dari penyakit wahn, sikap memberhalakan dunia, atau mengabdi materi. Jangan salah, hal ini sama sekali bukan ajakan meninggalkan duniawi, tetapi menanganinya dengan bijak. Indonesia Raya akan kokoh berdiri di atas kaki sendiri dengan semangat hidup bersahaja. Singkatnya, Indonesia merdeka secara politik-ekonomi. Inilah kemerdekaan Indonesia yang pertama. Sedangkan Indonesia memerlukan tiga kali kemerdekaan. Apkah yang kedua dan ketiga? Ikuti terus seri tulisan ini.

Galih W. Pangarsa

4 komentar:

  1. bambang supriyadi9 Juni 2010 05.22

    alangkah indahnya, bila tulisan-tulisan di dalam blog ini juga diformat untuk kalangan remaja bahkan anak-anak, karena kepada mereka lah masa depan Indonesia Raya kita titipkan. kerna kesadaran, dan niat untuk membaca, memahami, dan menngamalkan meski sebagian kecil dari tulisan-tulisan ini tentu terbatas pada lingkaran orang-orang yang saya duga berusia pada kisaran setengah abad-an

    BalasHapus
  2. memang menurut statistik survai video yang berkaitan/bersinggungan dengan isi web kami, rata-rata pembacanya berumur 40 tahun,... tak mengapa, karena mulai pada mereka yang seusia itulah umumnya kebijakan pendidikan di berbagai lembaga diambil. nanti saudara-saudara itulah yang menerjemahkannya pada lingkungan pendidikan mereka... namun demikian, apabila nanti weblog ini berkembang, indya Allah, akan kami sajikan dengan berbagai langgam bahasa kaum. terimakasih saran pak bambang. glagah nuswantara

    BalasHapus
  3. Tanpa membicarakan epistemologi kata Indonesia, jelas di buminya pada tahun-tahun 40'an terdapat tiga ideologi dominan yang pernah bersaing, dalam ertian perang saudara - Nasionalisme, Komunisme dan Rabbisme (Islam) yang pada hari ini, ideologi2 ini wujud dalam berbagai-bagai kombinasi (lihat Halumma Ila Mardhatillah oleh Ibnu Bahasan). Jelas larangan Allah mencampurkan yang haq dengan yang batil (2:42) agar kita kembali kepada yang murninya manusia sebagai abdinya Sang Tu[h]an (al-Ma'bud) 51:56, yang aktif menegakkan di bumi yang dipijaknya, kerajaan Sang Raja (al-Malik) 42:13, agar berlaku aturan Sang Pengatur (ar-Rabb) dari langit yang dijunjungnya, 5:50. Tiada satupun yang dibikin manusia yang tiada kadaluarsa, termasuklah UUD, penganutnya dan bumi yang dipaksakan kekuasaannya dengan penumpahan darah ribuan saudaranya gara-gara satu lagi manifestasi nafsu seperti yang Bpk sebutkan. Iya begitulah kondisinya dekadensi yang berlaku di hadapan mata kita, maka wajib di sini berpegang kepada kepimpinan yang mutlak, yg seandainya belum ditemukan, haruslah kita menggigit akar kayu sampai kita bertemu Allah.

    BalasHapus
  4. Terimakasih banyak kontaknya. Betul wan, untuk sedikit lebih sempit, di bidang budaya arkitektur di Indonesia tempat saya atau di Malaysia tempat wan, siapa sekarang arkitek saudara-saudara kita yang berpegang teguh pada kepemimpinan Allah saat ia berpikir? Tak ada yang peduli pada intuisi/ilham. Padahal Allah Maha Pemurah untuk memberinya petunjuk/hidayah ilmu. Siapa yang masih tertarik jumpa Allah agar dapat mengabdi sebagai sebenar-benarnya abdi? Sampai jumpa di kesempatan yang baik! Galih W. Pangarsa

    BalasHapus

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.