Kamis, 18 Agustus 2011

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #6

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #6
Fitrah Manusia Merdeka adalah Bertauhid-Murni, Penuh Syukur atas Rahmat Allah



Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu. (QS. 35:9)

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS. 35:10)



...dropcap S...
ecara tersirat firman Allah QS.35:9-10 menggambarkan langkah Allah yang dari waktu ke waktu hanya berkegiatan menghidup-bangkitkan kembali unsur daya potensi-bakat dzat ketenagaan hidup sesuatu, baik di alam semesta maupun di dalam diri manusia. Pada kebanyakan manusia, unsur daya potensi-bakatnya justru hancur dan mati ditekan-bunuh oleh kedengkian-logika-nafsunya sendiri. Rahmat dalam wujud membukakan pola berfikir dan pandangan hidup yang tepat menurut tolok-ukur kaidah-Nya serta pemahaman-pengertian terhadap kandungan mutiara hikmah, tidak henti-hentinya Allah singkap-sajikan dengan segala kelembutan kasih-sayang lewat Al Qur’an, para Nabi, dan pewaris mereka yang murni-konsekuen. Tak lain, agar Allah dapat menggugah bangkit potensi bakat manusia yang telah hancur dan mati.

Namun khususnya pada Ramadhan Sang Bulan Rahmat, sudahkah ada manusia yang tergugah unsur daya potensi-bakatnya untuk menyambut kebangkitan yang Allah langsungkan? Negeri ini memerlukan kebangkitan! Sayangnya, selama ini bisa jadi yang selalu dibukti-tampilkan masyarakat muslim hanyalah sikap rangkaian kesombongan yang tiada putus. Buktinya, anggapan-anggapan masih tampil selaku motor penggerak pola berfikir. Contoh anggapan-anggapan yang terus berkembang cukup banyak. Apa sajakah itu?

  • beranggapan telah menyambut baik dengan segala kelegaan hati perbaikan-perbaikan yang Allah langsungkan khususnya lewat Ramadhan, kenyataan sikap nafsu masih belum bisa menerima ridho nasib yang menghinakan dan menyengsarakan nafsu duniawi. Ridha tak sebatas kata lalu apatis. Tapi bukti ridha ialah melakukan perbaikan dengan perjuangan yang gigih.
  • beranggapan telah mengkaji-ulang Al Qur’an dan Al Hadits, kenyataannya hanya membaca rangkaian huruf, kata, dan kalimat. Buktinya belum ada pemahaman-pengertian mewujud dalam sikap, terutama sikap rukun dalam berkehidupan bersama sesama muslim. Jangankan andil masyarakat muslim di tingkat negera, di skala rumah-tangga pun kedamai-tenteraman belum terlaksana.
  • beranggapan diri telah berkegiatan ini dan itu memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam, padahal kegiatan yang dilakukan bukan dari kemurnian niat atau cuatan ide ‘aqal terbimbing Allah swt selaku Rabb, akan tetapi hanyalah pewujudan berbagai pamrih diri. Pamrih diri itu sangat luas, mulai dari mengemis pengakuan diri dari sesama, minta dihargai pikiran, ilmu, nilai-nilai, kedudukan, kemuliaan, sampai tuntutan akan imbal-balas perbuatan yang dianggapnya merupakan jasa.
  • beranggapan diri memandang sesama muslim sebagai saudara seiman, kenyataan sikap nafsu masih mudah menjadi iri-dengki tak senang terhadap keberhasilan sesama saudara muslim, serta sombong-angkuh senang bila saudaranya gagal. Apa lagi anggapan yang merusak?
  • beranggapan diri telah “maju” jika mendapat pengetahuan dari negeri Barat. Padahal, bisa jadi hakekatnya itulah sari pati ajaran Yhd laknatullah. Pernahkah pengetahuan yang bersumber dari memadukan ilmu dengan keyakinan terhadap Allah swt dan Nabi-Nya saw? Masihkah belum mau jujur mengakui cacat keimuan itu?
Selamanya kebangkitan ruhani tidak akan pernah tersentuh-gugah oleh segala bentuk perlakuan sikap kelembutan kasih-sayang Allah, jika pola fikir berupa anggapan yang berbuah kesombongan belum bisa dibersihkan dari prinadi manusia. Bukankah hanya perwujudan kelembutan kasih-sayang yang secara nyata Allah langsungkan atas diri kita selama ini?

Ketercelaan-ketercelaan, kejahatan-kejahatan yang selama ini berlangsung belum ada satupun yang Allah adili dengan hukum-Nya. Sebaliknya, pemberian maaf-ampunan dan kesempatan memperbaiki ketercelaan dan kejahatan diri khususnya melalui Ramadhan-lah yang Allah karuniakan sehingga manusia mencapai kembali derajat kemuliaan. Dengan perlakuan Allah demikian luar biasa diberikan masih belumkah juga dapat menggugah-getarkan perasaan-hati untuk bangkit dari kehancuran-kematian panjang? Marilah kita dengarkan. Apakah telinga-telinga kita terus saja membuta, membisu dan tuli? Khususnya terhadap negeri pertiwi Indonesia, ni’mat-rahmat Allah manakah yang hendak kita dustakan? Perlakuan bagaimanakah lagi yang kita hendaki untuk menggugah-getarkan perasaan hati terhadap berbagai jenis keberadaan ni’mat-rahmat Allah?


Tulisan di atas merupakan bagian dari penjelasan Ki Moenadi MS (alm) pada kesempatan kajian keilmuan di Yayasan Badiyo, 08/2000, dengan penyesuaian redaksional dari Taufik Thoyib. –Admin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.