Kamis, 15 April 2010

Jihad Membuang Pola Perasaan dan Pikiran Berduga-Sangka

Jihad Membuang Pola Perasaan dan Pikiran Berduga-Sangka


ulitmu adalah saksi-jujur kedustaanmu. Demikianlah kandungan Al Qur'an Surat Al Fushilat Ayat 22. Maka, marilah kita ketahui dan sadarilah bahwasanya tidak ada satu pun manusia yang dapat bersembunyi dari persaksian penglihatan dan pendengarannya sendiri atas ucapan, baik yang dilisankan, dituliskan, maupun yang bergerak di dalam bathin. Penglihatan, pendengaran serta kulit diri sendiri adalah penyaksi-penyaksi yang tidak dapat disogok atau ditekan oleh nafsu; kesalahan sekecil apapun yang dilakukan manusia tidak akan dapat tersenyembunyikan darinya.Pada hakekatnya, manusia tak dapat menyembunyikan atau menyamarkan apapun di hadapan Allah.

Kesombongan menilai diri dan pihak lain

Contoh nafsu menyamarkan kesalahan adalah: “saya memang salah, tapi bukankah saya sudah berusaha begini dan begitu; saya berbuat ini karena dia begini dan begitu.” Pernyataan semacam itu merupakan salah satu cara berargumentasi atau beralasan yang dilakukan nafsu untuk menutupi keutuhan kesalahan diri. Juga perwujudan dari anggapan atau penilaian diri yang telah merasa “begini dan begitu”. Bahkan sebetulnya sekaligus kesombongan dalam menilai pihak lain. Mengapa hati manusia tidak mampu mendengarkan persaksian dari pendengaran, penglihatan serta kulitnya sendiri?

Karena, hatinya tebal tertutup oleh sikap beranggap-sangka. Jadi, pada akhrinya, sikap diri yang suka beranggap-sangka itulah yang akan membawa diri manusia pada titik kehancuran. Sebenarnya mudah bagi manusia untuk mengukur apakah diri telah bersih dari bersikap tidak jujur dan beranggapan atau tidak. Selama berita keilhaman dari Allah belum pernah langsung manusia terima, itu pertanda bahwa ketidak-jujuran dan beranggap-sangka masih menjadi motor penggerak perilakunya. Dalam hal ini, antara beranggapan-sangka dan berdusta tidak dapat dipisah-pisahkan karena keduanya merupakan kerja-sama yang kuat untuk mengokohkan kekuasaan nafsu.

Ketika manusia berduga-sangka, maka di sanalah kedustaan mengiringi; kapan manusia berdusta, di saat itu pula anggap-sangka turut menyertai. Sikap beranggap-sangka menipu-daya, beranalisa serta segala bentuk kedengkian-logika-nafsu dapat menjadi bentuk berhala-berhala yang dipertuhankan dan dipatuh-taati diri. Sebenarnya bentuk berhala-berhala itu hendak Allah rubuhkan dari dalam diri manusia, bahkan hendak Allah penggal-penggal dengan pisau ketajaman untaian mutiara rahmat. Sejak untaian mutiara rahmat Allah sajikan ke hadapan manusia lewat apa yang dibawakan oleh para rasul-Nya, sejak itu pulalah keberadaan berhala-berhala secara berangsur-angsur rubuh terpenggal-penggal. Tetapi karena tidak adanya upaya masing-masing manusia mengangkat-buang sebersih-bersihnya ceceran penggalan-penggalan berhala yang telah Allah rubuhkan, maka berhala-berhala yang semula telah terpenggal-penggal oleh keberadaan untaian mutiara rahmat bangkit merekat-lekat kembali menguasai hati. Bagaimana agar hal itu tidak terjadi?

Membuang pola sikap perasan dan pikiran beranggap sangka mesti dengan kesungguhan jihad.

Berhala-berhala itu merupakan ketenagaan sifatnya pasti bergerak dan hidup. Suatu kewajaran jika untaian mutiara rahmat yang Allah hias-patrikan ke dalam hati manusia tidak berhasil menancap apalagi menyerap kedalam perasaan-hati, karena di dalam hati sudah terisi pilar-pilar berpagar besi kedengkian logika-nafsu dengan segala bentuk keburukan dan kejahatanya. Memang, sebenarnya tidak layak mematri-hiaskan untaian mutiara rahmat di dinding hati bertembok besi kedengkian-logika-nafsu. Hal demikian itu pasti bukannya tidak Allah ketahui. Justru kenyataan demikian itu mendorong bertambahnya rasa kasih-sayang Allah untuk memperbaiki keadaan perasaan-hati manusia.

Benarkah? Buktinya antara lain: ketika dihadapkan pada firman Allah, sebagian besar manusia malah menjauh. Bila keadaan demikian tidak Allah sambut dengan rasa kasih-sayang atau dibiarkan terus-menerus dipagari oleh kekerasan tembok kedengkian-logika-nafsu, tentunya manusia jugalah yang akan merugi dalam bentuk terjerumus ke dalam lembah kesengsaraan yang berkekekalan: kesengsaraan hidup akan terus berlangsung sampai di akhirat-kelak di neraka jahanam.

Berawal dari rasa kasih-sayang itulah, maka Allah hias-patrikan dinding hati manusia yang bertembok-besi kedengkian-logika-nafsu dengan mutiara rahmat Al Qur’an dan petunjuk pelaksanaannya Al Hadits. Dengan isyarat melalui ketukan-ketukan pematrian hiasan mutiara rahmat, kekerasan besi kedengkian logika-nafsu yang telah memagari kelembutan dan kepekaan hati dapat diretak-pecahkan secara pasti. Ketukan-ketukan itu bisa jadi sangat tidak menyenangkan bagi manusia karena berbentuk kepahitan hidup. Atau sebaliknya, menyenangkan tapi sebetulnya adalah latihan mawas diri untuk senantiasa tak berbangga-takabur. Jika tepat menyikapinya, barulah kemudian pecahan-pecahan kekerasan tembok berpagar-besi kedengkian logika nafsu dapat diangkat kemudin dibuang melalui tindakan kegiatan olah-lanjut mewujudkan syukur dalam sikap dan perbuatan nyata: beramal-sholeh, beramar-ma’ruf-nahi-munkar, berjihad di jalan Allah sesuai dengan kesempatan dan kemampuannya. Bila retakan dan pecahan kekerasan pagar tembok-besi kedengkian-logika-nafsu tidak segera diangkat dan dibuang oleh kesyukuran sikap mewujud dalam jihad, maka pastikanlah, cepat atau lambat, retakan dan pecahan kedengkian-logika-nafsu akan kembali pada kekerasannya untuk memagari dinding-hati.

Allah mematri untaian mutiara rahmat ke dinding hati

Bila hal itu yang terjadi, maka hiasan untaian mutiara rahmat yang Allah patrikan di dinding hati akan tertutup kembali oleh kekerasan pagar-besi kedengkian-logika-nafsu. Secara isyarat keadaan demikian itulah yang saat ini sedang berlangsung di dalam diri manusia khususnya ummat Islam. Tentu saja terjadi pada mereka yang belum berhasil mewujudkan syukurnya atas rahmat diposisikan sebagai sebaik-baik ummat. Setiap Allah mematrikan hiasan mutiara rahmat di dinding hati manusia, selalu saja itu mengelupas tanpa berhasil menyatu. Apalagi sampai tumbuh-berakar untuk dipetik-sikapi kembali dalam tampilan akhlaq terpuji. Diibaratkan, pematrian untaian mutiara rahmat ke dinding hati yang berpagar kedengkian-logika-nafsu adalah laksana menghiasi suatu rumah. Apabila dindingnya ditata dengan hiasan-patri bernilai keindahan, tentunya keindahan dan keterpujianlah yang senantiasa tampil terlihat mata. Begitu pula dinding hati yang telah dihias-patri dengan keindahan untaian rahmat dari Allah, tentunya nilai keindahan dan keterpujian pada perilaku akhlaq akan tercermin-tampilkan di setiap saat. Bagaimanakah agar akhlaq manusia dapat berhijrah dari berperilaku akhlaq buruk-tercela menjadi indah-terpuji?

...menunggu gambar...Empat tulisan "Peringatan Bencana Gagal Dimengerti Hati Buta", "Jihad Membuang Pola Perasaan dan Pikiran Berduga-Sangka", "Kesombongan: Buah Berfikir Duga-Sangka yang Menghancur-Binasakan Unsur Ruhaniyah", dan "Rongrongan Iblis terhadap Manusia" yang diterbitkan 30 Rabi'ul Akhir 1431H (15/04/2010) di weblog kita ini merupakan satu rangkaian rangkuman pengajian dari Ki Moenadi MS 1421H (2000), berjudul: "Ketika Unsur Jasadiyah Membuka Persaksian Tersingkap Kejahatan Anggap-sangka yang Menghancur-binasakan Unsur Ruhaniyah". Kami menyediakan tautan untuk mengunduh versi PDF-nya di kolom sebelah kanan. Admin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.