Minggu, 11 Juli 2010

Abaikan Al Qur’an, Hidup Terpecah-Belah





Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan (diabaikan)." (QS 25:30)


Abaikan Al Qur’an,
Hidup Terpecah-Belah


...dropcap S...
ebagaimana diisyaratkan firman di atas, penggeseran ajaran Allah terjadi dalam segala bidang. Yaitu ketika ummat Islam mengabaikan Al Qur’an selaku petunjuk, termasuk petunjuk dalam segi keilmuan. Jangan dikira menjamurnya ilmu yang lahir dari kalangan pendengki adalah dalam rangka menaikkan nilai harkat manusia. Tetapi dalam rangka menarik perhatian khususnya ummat Islam. Bila ummat Islam telah tertarik, tumbuhlah benih kekaguman terhadap mereka. Maka terbukalah jerat untuk mengajarkan keilmuan mereka pada ummat Islam, sehingg pada akhirnya ummat Islam meninggalkan wahyu Al-Qur’an yang sebenarnya merupakan sumber dari seluruh kajian ilmu untuk kehidupan. Dengan ditinggalkannya Al-Qur’an, terlenalah ummat Islam dalam pola pandang berfikir mereka. Puncaknya, ummat Islam tidak lagi menyadari (tidak mengetahui) telah menjadikan mereka selaku pemimpin dalam arti sangat luas. Padahal, itu merupakan larangan tegas dari Allah yang harus disikapi ummat Islam (QS.5:51). Begitu pula hidup terpecah-belah dari tubuh yang satu menjadi berbagai kelompok merupakan hal yang Allah murkai: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang YHD dan NSR menjadi pemimpin-pemimpin; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin (mengikuti pola pikir/millah mereka) sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. 5:51)

Jangan dikira terpecah-belahnya ummat Islam dalam berbagai kelompok merupakan bukti kemajuan ummat Islam melaksanakan ”demokrasi”. Keterpecah-belahan ummat Islam menjadi berbagai kotak atau kelompok, adalah bukti kelemahan dan kebodohan ummat Islam sendiri. Yakinlah bahwa awal kehancuran dan kehinaan ummat Islam adalah terkotak-kotaknya ummat. Masing-masing kelompok merasa bangga terhadap kelompoknya, sebagaimana ditegaskan firman Allah: yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. 30:32). Pengertian “perbedaan adalah rahmat” hanya terjadi apabila seluruh pihak yang berbeda pandangan ada dalam naungan Allah selaku Ar-Rahman Yang Maha Pemurah dalam menganugerahkan rahmat kasih-sayang-Nya. Sedangkan mengadu-domba bukanlah sifat Asma-Nya. Berarti, perbedaan yang meruncing menjadi perpecahan adalah bisikan iblis. Singkatnya, “perbedaan adalah rahmat” hanya dapat terjadi jika semua pihak bertauhid murni.


singa berkasih sayang

Binatang buas seperti singa betina pun telah dikodratkan Allah untuk melahirkan dan merawat generasinya, membiaskan kasih-sayang dari Ar-Rahman. Sekali waktu, sekelompok keluarga binatang buas ini seolah-olah menyindir manusia dengan menunjukkan kerukunan mereka; tak ada permusuhan antarkeluarga. “Kebuasan” mereka menyantap fauna yang lebih lemah pun, bukanlah karena mereka kejam, rakus, atau sombong ingin menunjukkan keperkasaan. Tetapi karena demikianlah Allah menetapkan kodratnya, yang memustahil- kan mereka menyantap flora. Pengertian kodrat adalah ukuran-ketetapan.

Fenomena binatang buas makan daging makhluk yang lebih lemah bukanlah “struggle of life” seperti pikiran bathil Darwin, yang menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk terunggul. Sedangkan ras kulit putih adalah yang terunggul di antara spesies manusia (dan karenanya, "halal" untuk menindas, membantai, dan melenyapkan bangsa ras kulit hitam, merah, coklat, kuning). Darwinian masih banyak dianut bahkan oleh kelompok masyarakat non-Eropa yang sangat rendah diri berhadapan dengan segala sesuatu yang bercikal-bakal dari Eropa (eurocentrism). Mereka mesti dimerdekakan secara mutlak dari tekanan mental terjajah eurocentrism itu.


Keterpecah-belahan ummat Islam dalam berbagai kotak-kelompok, merupakan kesempatan empuk bagi para pendengki untuk mengadu domba. Bahkan hal yang terus menerus dilancarkan atau dihembuskan mereka adalah memperuncing perbedaan, berlanjut ke tingkat permusuhan antarkelompok. Semakin tajam tingkat permusuhan, semakin tampak dan terbukalah kelemahan ummat Islam. Maka, sudah saatnya bagi ummat Islam untuk bangkit berkesadaran menyatukan jiwa ke-Islam-an dalam satu barisan kokoh-kuat, saling bergandengan-tangan. Laksana rumah laba-laba, meskipun dari pandangan mata kepala tampaknya rapuh, tetapi rumah laba-laba adalah bukti kelihaian bersiasat si lemah menjaring komponen satu dengan komponen lainnya. Dengan demikian, terlindungilah kekuatan Islam dari penghancuran para pendengki. Inilah yang ditamsilkan dari keberhasilan jaringan laba-laba mengamankan dua tokoh utama dunia Islam yakni Rasulullah Muhammad s.a.w. dan sahabatnya Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. Perpecahan merupakan bukti kegagalan ummat Islam menjaga satu kekuatan atau barisan yang energik kokoh-kuat dalam segala bidang. Sikap hidup demikian adalah sikap hidup musyrik.

Islam mengajarkan ummatnya untuk hidup hanya mentauhidkan Allah. Imbas atau pancaran hidup bertauhid tampak pada keutuhan kesatuan barisan atau tubuh ummat Islam dalam kasih-sayang Allah. Sikap hidup berpecah-belah dalam berbagai kelompok tidaklah semestinya dikembangkan dan diperluas ummat Islam, karena itu adalah ciri kehidupan kaum pendengki Islam, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya, yang artinya: “Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan perpecahan”. Siapa pun orangnya mengakui dirinya Islam tetapi hidup dalam perpecahan, maka haqiqinya kejiwaannya telah menjadi kafir. Oleh karena itu yang seharusnya disikapi ummat Islam bukanlah memperluas atau memperuncing perbedaan masing-masing kelompok. Secara tidak langsung, hancurnya ummat Islam akan menghancurkan pula kehidupan negeri dan bangsa ini.

...menunggu gambar...Diringkas dan dituliskan kembali oleh Taufik Thoyib (dengan beberapa tambahan informasi) dari buku Ki Moenadi MS berjudul “KEBENARAN adalah Pengarah Pembentukan Pengembangan Bakat-Potensi Manusia”, halaman 26-32, Yayasan Badiyo, 1421H.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.