Jumat, 12 November 2010

Memerdekakan Negeri dari Jerat-Bencana

Tulisan di bawah adalah versi ringkas dari Khutbah Iedul Adha yang versi lengkapnya (format PDF), dapat diunduh di bagian atas kolom samping kanan. Di versi ringkas, tulisan ini disertai dengan ilustrasi multimedia; silakan memakai tombol di bagian kanan bawah -Admin

Memerdekakan Negeri
dari Jerat-Bencana





...dropcap S...



eolah tidak disadari bangsa ini, bahwa ternyata telah terjadi kemerosotan di tengah-tengah kehidupan manusia. Buktinya, adalah mata-rantai kesulitan-bencana yang tampil mengambil alih puncuk kepemimpinan jalan hidup negeri ini. Kenyataannya, sekarang ini ummat Islam justru selaku ummat yang diarah-tentukan oleh pola-pandang keilmuan dan pola-pandang kehi-dupan kaum kafir (Yhd+Nsr). Ummat Islam telah terjebak masuk dalam pola penjajahan karena kebodohannya sendiri. Adapun seburuk dan serendah-rendah tempat dijelaskan Alah di dalam firman-Nya QS.8:22: Sesungguhnya binatang (makhluq) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.

“Tuli” yang dimaksud adalah tidak adanya kemampuan telinga hati mendengar-tangkap peringatan yang disampaikan Allah baik secara langsung melalui wahyu Al-Qur’an maupun secara tidak langsung dari isyarat bencana yang datang beruntun. Orang-orang tuli tidak ber-’aqal inilah yang selalu diperbodoh, dijadikan kaki-tangan oleh kaum kafir. Meskipun mereka beratribut bahkan mengaku selaku pemeluk Islam sejati, namun haqeqat ke-Islamannya di sisi Allah bernilai munafiq. Karena gerak-kegiatan kehidupan sikap terjangnya lebih mengutamakan bekerja-sama bergandeng-tangan berkasih-sayang dengan kaum kafir (Yhd+Nsr) daripada dengan sesama kaum beriman. Bahkan mereka selalu mencurigai sesama beriman sebagai musuh. Demikian buruk dampak yang terjadi pada perilaku orang-orang tidak berfungsi ‘aqalnya, maka Allah dengan tegas menyatakan di dalam firman-Nya QS.10:100 : … dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Saatnyalah kini, untuk bersegera bangkit serempak bersatu-maju, mengusir gerakan-tersembunyi kegiatan-persekongkolan dalam-luar negeri yang direncanakan oleh perserikatan kaum berbenderakan tiga sifat, yaitu kafir-munafiq-musyrik. Mereka ingin menenggelamkan nilai-nilai Qur’ani yang di masa lalu, telah berhasil menghantarkan Islam pada puncak kejayaan.

Wujud kemurkaan Allah adalah serangkaian mata-rantai kesulitan hidup yang tidak dapat terselesaikan tuntas. Kemunafiqan pasti tumbuh-berkembang, bila di dalam diri tidak tegak kemurnian iman-tauhid. Tidak terlalu sulit mengetahui kemunafiqan seseorang. Kapan terjadi ketidak-selarasan antara ucap dan sikap itulah tanda kemunafiqan sedang menguasai diri. Apa ciri khas kaum munafiq?

Dengan tegas dapat dinyatakan ciri kepemimpin orang-orang munafiq selalu mengandal-utamakan perolehan dukungan kedudukan-posisi diri dari orang kafir serta orang-orang yang tidak berfungsi ‘aqalnya sehingga dapat diperalat dan diperbodoh sebagai pengganjal-pelindung singgasana kekuasaan. Terjadinya kelangsungan bekerja-sama bergandeng-tangan antara kaum kafir dengan munafiq-musyrik disebabkan ketidak-mampuan mata-hati si munafiq-musyrik menyorot jauh membaca lontaran-lemparan umpan-pancing beriming-iming janji manis kaum kafir, namun sebenarnya bermadu fithnah-kehancuran bagi kehidupan bersemesta termasuk negeri ini. Meskipun sudah tegas Allah menjelaskan di dalam firman-Nya tentang sifat-keadaan kaum kafir yang penuh dengan dendam-kebencian terhadap Islam, namun karena mata-hati terkena penyakit tuli dan buta sehingga tak mampu menangkap dengan tepat-pasti akan penjelasan Allah tersebut. Bukankah Allah telah menjelaskan secara tegas, bahwa apapun dan sampai kapan pun bentuk kegiatan-kebaikan yang dilangsungkan kaum kafir pada akhirnya pasti mendatangkan bencana kerusakan-kehancuran? Kehancuran terjadi baik pada tatanan-rajutan hidup masyarakat manusianya maupun pada tatanan-rajutan hidup masyarakat alam lingkungan.

Sudah menjadi ketetapan sunatullah kapan kekafiran-kemunafiqan-kemusyrikan tampil ke depan memimpin jalan kehidupan pasti akhir segala yang dicapai adalah keretakan-perpecahan dan terputusnya rajutan benang-lembut jalinan-hati kasih-sayang sesama ummat manusia serta kehancur-hinaan tatanan kehidupan, dengan bukti:
● Tanah seharusnya dapat menumbuhkan tanam-tanaman ternyata enggan memberikan hasil yang baik, bahkan menyajikan gempa dan lahar gunung berapi.
● Hujan seharusnya berfungsi penyubur tanah ternyata membanjir-tenggelamkan hunian masyarakat; bahkan laut tempat tampungan airnya pun menyajikan gelombang penghancur hunian manusia atau air asinnya menyusup jauh ke daratan, menyulitkan penduduk kota-pantai mendapatkan air minum tawar.
● Angin yang berfungsi mempertemukan serbuk-sari tanaman serta penyejuk-penyegar bagi lingkungan manusia ternyata meroboh-hancurkan hunian masyarakat.
● Iklim yang semula ramah mendukung aktifitas hidup manusia, kini berubah menjadi makin ganas memanggang mereka.
Bahkan negeri ini kini bagai dikepung bencana yang merambat dari satu daerah ke daerah yang lain. Karena ulah perserikatan kaum kafir-munafiq-musyrik yang telah cukup lama, Indonesia bagaikan telah berubah, dari negeri rahmat menjadi negeri bencana.

Oleh karena itu renung dan sadarilah! Bencana yang beruntun menimpa hunian hidup suatu kaum-bangsa janganlah hendaknya semata-mata dipandang sebagai gejala alam yang biasa-wajar terjadi. Bukankah Allah telah menjelaskan di dalam firman-Nya QS.7:96: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Akan lebih berarti dan beradab di sisi Allah jika musibah bencana alam yang beruntun menimpa direnung-pandangkan semata-mata sebagai isyarat-berita peringatan langsung dari Allah. Dengan sikap-laku demi-kian itu serta-merta akan menggugah-bangkitkan kesadaran untuk meng-akui kekhilafan-kesalahan diri yang ternyata telah banyak menentang-menyimpang dari petunjuk Allah. Ingatlah kembali akan sejarah kehidupan ummat baik di masa kepemimpinan Nabi Nuh a.s., Hud a.s., Sholeh a.s., maupun Nabi Syu’aib a.s., mereka menyimpang dan menentang himbauan-peringatan Allah. Maka mereka dihancur-hina-binasakan oleh ketidak-ramahan. Firman Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi dengan idzin Allah dapat melimpahkan berkah. Syaratnya, manusia harus beriman dan bertaqwa. Tetapi iman dan taqwa hanya sebatas pengakuan, ternyata tidak cukup dijadikan sarana penyambung persahabatan akrab antara masyarakat alam lingkungan dengan masyarakat manusia. Justru sebaliknya hanya akan menambah kebencian dan kemarahan alam lingkungan. Persahabatan-akrab akan terjalin ramah dengan masyarakat alam lingkungan, jika masyarakat manusia berkeimanan tauhid-murni dan berketaqwaan sejati yang berbukti mewujud-nyata pada perilaku sikap-ucap perbuatan.

Tauhidnya iman dan ketaqwaan manusia, secara tidak langsung akan berdampak pada ketenangan masyarakat alam lingkungan menjalankan kegiatan bertasbih memuji Allah secara berkesinambungan. Sebagaimana dicontohkan kholifah-kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. dengan keimanan tauhid murni dan ketaqwaan sejati, berhasil mengeluarkan kehidupan manusia maupun alam semesta dari belenggu kegelapan menuju alam terang-benderang di bawah naungan kibaran bendera kemenangan. Begitu pula yang terjadi pada kholifah-kepemimpinan Nabi Ibrahim a.s. Dengan keimanan tauhid-murni, ia telah berhasil pula merubah rentangan keadaan alam kering-tandus. Dari alam yang kering tandus, menjadi rentangan alam bersahabat-akrab. Bahkan dengan wujud alam hunian berkehidupan makmur-bersahaja yang berkeadaan santun-berkesetimbangan untuk sepanjang masa. Allah menganugrahkan penghargaan berupa pelaksanaan ‘Iedul Adha setiap tahun kepada Nabi Ibrahim a.s., yang telah berhasil menyelenggarakan perubahan keadaan hunian secara total-menyeluruh terpadu antara masyarakat manusia dan masyarakat alam lingkungan. Tersirat-singkaplah tujuan terkandung dihadirkannya ‘Iedul Adha di tengah kehidupan masyarakat manusia, tidak lain dalam rangka memberikan kesempatan tempat dan waktu kepada manusia selaku kholifah untuk membawa hunian hidup ke arah perubahan mendasar-menyeluruh terpadu.

Mari lepas dan campakkan segala bentuk dendam-kebencian yang telah ditanamkan oleh pemimpin munafiq-musyrik, sehingga negeri dan bangsa yang kita cintai ini dapat terbebaskan dari himpitan dan lilitan kesulitan yang telah menghancur-binasakan nilai-nilai peradaban manusia yang berjiwa Qur’ani.

Diringkas dengan beberapa tambahan informasi oleh Taufik Thoyib dari Khutbah ’Iedul Adha 1421H buah pena Ki Moenadi MS almarhum --semoga ridha Allah tercurah kepada beliau-- berjudul ”Momentum ’Iedul Adha Pembangkit Perbahan Mendasar-Menyeluruh-Terpadu”, terbitan Yayasan Badiyo, Malang.

6 komentar:

  1. Ruslan Bachtiar13 November 2010 00.55

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh
    pada kalimat:
    "Bukankah Allah telah menjelaskan secara tegas, bahwa apapun dan sampai kapan pun bentuk kegiatan-kebaikan yang dilangsungkan kaum kafir pada akhirnya pasti mendatangkan bencana kerusakan-kehancuran? Kehancuran terjadi baik pada tatanan-rajutan hidup masyarakat manusianya maupun pada tatanan-rajutan hidup masyarakat alam lingkungan."

    Di Indonesia ditengarai banyak sekali NGO/LSM2 asing yang banyak bergerak di bidang kemanusian/lingkungan/pendidikan dsb. Adakah dibalik derma/kebaikan2/kegiatan2 sosial mereka, tersimpan pula agenda2 terselubung untuk bumi pertiwi Indonesia? apakah kita patut selalu curiga terhadap kehadiran mereka? padahal didalam lembaga mereka kadang juga bekerja saudara2 dari tanah air sendiri?
    bagaimana kita bersikap? bentuk kewaspadaan seperti apa yang patut kita lakukan ditengah2 mereka?
    Apakah tidak ada pengecualian atau apakah kita pantas menilai bahwa apapun kebaikan dari kaum kafir/non muslim/YN sampai kapanpun tak ada satupun yang tulus mereka lakukan, bisa dikata ber pamrih/tendensius/punya kpentingan?

    Saya pernah mendengar bahwa Allah tak akan pernah meneteskankan Ilmu-Nya kepada orang2 yang berakhlak buruk, juga tak akan pernah meneteskan keilmuan-Nya kepada orang2 kafir/non muslim/YN, Benarkah yang saya dengar tersebut? padahal di masyarakat kita banyak beredar pemikiran2 yang bersumber dari pendapat2 mereka...lalu bagaimana kita bersikap setidaknya ambil contoh saya sendiri yang masih lemah pemikirannya harus berbuat seperti apa?
    Mohon maaf atas segala kekurangan dan Terimakasih sebelumnya..
    Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
    ruslan_bachtiar@yahoo.com

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum wr.wb.,

    Insya Allah beberapa ciri utama mereka adalah sbb:
    ● bertopeng gerakan humanisme, keadilan, termasuk demokrasi ("liberté, egalité, fraternité", "green peace", dll)
    ● menawarkan bantuan yg menjadikan ketergantungan (melewati 3 jalur utama: 1] pemerintah, 2] NGO, 3] pendidikan/ kebudayaan).
    ● menyajikan kebaharuan palsu (teosofi, perennial, dll) lewat jalur intelektual-iptek.
    ● menipu-daya dengan gerakan-gerakan spiritual yang mendatangkan kekaguman, pemujaan, atau dajjaliyyah (termasuk "sekte2 agama baru").

    Betapa pun tampak secara kasat mata "baik" atau "mulia", tindakan mereka mustahil LILLAAH, karena mau mengakui Allah pun tidak. Sedangkan amal yang diterima hanya amal yang lillaah. Pasti akhirnya mereka hanya merusak. Jadi perbuatan muslim pun secara haqiqi belum tentu bernilai lillaah. Hanya saja, muslim selalu punya kesempatan untuk diterima amalnya. Yang kafir mustahil dibukakan kesempatan, sampai mereka menjadi beriman terlebih dahulu.

    Hal kedua yang haqiqi adalah bahwa Allah memperingatkan, sesungghnya syaithaan adalah musuh manusia yang nyata. Haqiqatnya yg mengilhami mereka selalu iblis. Banyak ayat dalam Al Qur'an menegaskan bahwa Allah mustahil memberi petunjuk kaum kafir. "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. ... Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; ALLAH MEMERANGI MEREKA (قَاتَلَهُمُ اللَّهُ )... [Al Munafiquun (63) Ayat 4]

    Bekerjasama selama tidak mengikat apapun silakan. Ibarat bertetangga dengan non-muslim, jika got mampat, tak mengapa bergotong-royong memperbaikinya. Tetapi kalau sudah campur tangan (mulai menggeser nantinya pasti bahkan menggusur) terhadap aqidah-syari'ah-akhlaq Islam, kita harus tegas (dengan cara yang tetap baik, atau dengan siasah yang baik). Campur tangan itulah yang harus DIWASPADAI. Contoh, dahulu ada tokoh non-muslim bereputasi internasional yg akan menggeser Sila-1 Ketuhanan YgMahaEsa menjadi Ketuhanan YgMahaKasih. Itu soal prinsip, karena Ketuhanan YME adalah penegakan kalimah Allahu Ahad.

    Karena di masyarakat belum semua menyadarinya, maka kita perlu aktif menyebarluaskan informasi yang HAQQ (weblog ini juga salah satu wujud upaya tersebut). Allah saja memerangi mereka (QS 63:4), kita pun mengikuti Allah dengan menauladani cara-cara yang dicontohkan Nabi s.a.w.

    Demikian, mohon maaf keterbatasan saya dalam menjawab, semoga bermanfaat. Salam, Taufik Thoyib -Admin

    BalasHapus
  3. Ruslan Bachtiar14 November 2010 10.40

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, terimakasih atas penjelasannya...Wassalam

    BalasHapus
  4. assalamu'alaikum, bgmn usaha berlepas diri dari sifat kemunafiqan? nuwun, salam -Yayan.

    BalasHapus
  5. Wass.wr.wb.,
    Wah ini pertanyaan sukar. Munafiq adalah kotoran yang paling sering dibuat manusia. Ciri utama: apa yang dikata tak sama dengan apa yang diperbuat. Contoh utama ialah kata-kata sholat. Di hadapan Allah atau di dalam sholatnya, manusia masih berani berdusta. Kata manusia dalam sholatnya, ia hanya meng-esa-kan (meng-ilaah-kan atau hanya bergantung pada) Allah, tetapi ternyata lebih sering mengilaahkan dirinya sendiri. Bukti: dalam berfikir, berkata, dan berbuat, manusia lebih sering mengandalkan pikiran (logika-nafsu)-nya sendiri. Kata manusia dalam takbir sholatnya, ia mengagungkan Allah tetapi ternyata ia lebih sering mengagungkan dirinya sendiri. Buktinya, ketika tak dihargai oleh pihak lain, perasaannya tak senang bahkan ia menjadi marah, dan seterusnya,... Kalimat sholat jarang dipandang sebagai perkataan dan bahkan janji di hadapan Allah. Selama kata-kata dalam sholat belum tegak menjadi sikap-bathin diiringi dengan perbuatan lahir, selama itu pula manusia cenderung munafiq. Jadi, agar terbebas dari sifat munafiq, kita bisa mengawalinya dengan berupaya menerapkan semua kata-kata dalam sholat dalam kehidupan sehari-hari. Setelah jatuh-bangun membuktikan uapaya penuh kesungghan, barulah Allah turunkan pertolongan-Nya untuk memperbaiki hamba dari sifat munafiq.

    Demikian secara sangat ringkas, mahon maaf segala kekurangan jawaban ini. Semoga bermanfaat, salam, Taufik Thoyib -Admin

    BalasHapus
  6. alhamdulillah, terimakasih atas penjelasannya, smoga Allah menurunkan pertolongan-NYA kepada setiap muslim yang berusaha memperbaiki diri dari sifat munafiq. amin.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.