Rabu, 05 Mei 2010

Kepribadian Luhur Bangsa-Negeri Indonesia

...QS 14: 1...

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan idzin Robb mereka, (yaitu) menuju jalan Robb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS.14:1)

Kepribadian Luhur Bangsa-Negeri Indonesia


...drop capital B...enarkah bangsa ini telah mensyukuri keberadaan petunjuk Allah, yaitu Al Qur’an? Kenyataannya justru sebaliknya. Penggeseran terhadap nilai kepribadian Qur’ani tidak saja berlangsung pada masyarakat Islam, tetapi juga dalam kehidupan negeri-bangsa termasuk Indonesia, dengan begitu mudahnya menggeser-tukar nilai budaya luhur kepribadian bangsa dengan pola-tradisi yang dikembangkan tidak islami. Sebagai salah satu bukti, kepribadian bangsa yang telah bergeser adalah “nilai kemanusiaan yang adil dan beradab” ditukar-geser dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal jika direnung jauh, muatan yang terdapat dalam HAM berisi kejahatan tingkat tinggi dengan sasaran utama pembunuhan terhadap kepribadian Qur’ani, baik yang melekat pada masyarakat manusianya maupun masyarakat negeri-bangsanya. Mengapa? Karena yang dihembuskan hanyalah kebebasan liar. Itu bertolak belakang dengan “nilai kemanusiaan yang adil dan beradab” yang menyiratkan suatu keterikatan-penuh pada akhlaq indah terpuji atau budi-pekerti yang luhur.


Geger makam mbah Priok

Nilai-nilai demikian inilah yang kini pupus dari kehidupan berbangsa. Apa yang terjadi di negeri-bangsa Indonesia akibat kehilangan mahkota kepribadian luhur-islami? Bencana-kesulitan secara berantai datang menimpa! Hal ini tidak juga disadari oleh masyarakat bangsa, khususnya para pelaku-pengendali roda pemerintahan. Bahkan lebih naif lagi para pelaku pemerintahan tidak segan-segan lagi menjual harga diri bangsa demi keuntungan (diri pribadi) yang hanya diiming-imingkan oleh fihak luar.  Masyarakat-bangsa khususnya yang menganggap dirinya tokoh, tidak menyadari bahwa masing-masing negeri memiliki kepribadian yang berbeda. Itulah sebabnya kepribadian suatu bangsa tidak dapat dikembangkan pada bangsa yang lain. Lebih khusus lagi kepribadian yang melekat pada negeri-bangsa Indonesia adalah kepribadian Qur’ani. Begitulah kodrat negeri ini. Apakah contoh kepribadian qur'ani pada kehidupan berbangsa di Indonesia?


Pada “nilai kesatuan dan persatuan”, terselubung maksud-tujuan agar masyarakat bangsa yang hidup dalam keragaman-majemuk dapat dipersatukan dalam ikatan yang kokoh. Apabila nilai kepribadian bangsa yang demikian indah tersebut digeser-ganti dengan bentuk negara bagian/federal, tunggu dan saksikanlah, cepat atau lambat perjalanan hidup bangsa ini akan semakin terpuruk di jurang kesulitan. Mengapa? Masing-masing bagian-daerah lebih menjunjung tinggi kesukuannya dari pada jiwa kebangsaannya. Sejarah telah membuktikan salah satu keberhasilan penjajah menguasai negeri-bangsa ini adalah karena fanatisme kesukuan. Bagaimana Al Qur'an menetapkan pengelolaan kemajemukan ini?

arsitektur Nusantara

Seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia sebenarnya telah diwarnai oleh nilai-nilai keilmuan Qur’ani yang luhur. Bahkan kehidupan alamnya pun tuangan-aplikasi dari Al-Qur’an. Hanya saja karena Al-Qur’an telah diabaikan oleh masyarakat Islam khususnya di Indonesia, maka dengan mudahnya nilai-nilai Al-Qur’an baik yang ada pada masyarakat manusianya maupun masyarakat-bangsanya digeser dan akhirnya digusur.

Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk menyikapi Al-Qur’an, karena selaku suri-tauladan penyikap-laksanaan terhadap wahyu Al-Qur’an, telah diutus hamba kecintaan-Nya Nabi Muhammad s.a.w. Lengkaplah Allah dalam mewujudkan rasa kasih-sayang-Nya terhadap manusia, dengan cara memberi kemudahan bagi manusia menumbuh-kembangkan kepribadian Qur’ani. Keberadaan Al-Qur’an maupun Rasulullah Muhammad s.a.w. di tengah-tengah kehidupan manusia dan semesta tidak lain sebagai contoh-tauladan yang sempurna sebagaimana diisyarat-tegaskan pada firman-Nya QS.33:21.


...QS 33: 21...

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.33:21)

Rasulullah Muhammad s.a.w. menghimbau-ajak ummat keluar dari segala bentuk kegelap-bodohan berfikir atau tampil dengan berkepribadian Qur’ani. Dari gelap terbitlah terang, dari pola-tradisi jahiliyah yang serba terbelenggu kegelap-bodohan berfikir, beralih menuju hidup berkepastian berfikir. Itulah yang tampaknya menjadi tujuan utama Allah menurunkan Al-Qur’an serta mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad s.a.w. ke seluruh ummat manusia bahkan semesta, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya QS.14:1 yang tersaji di atas. Maka, atas kesediaan Rasulullah Muhammad s.a.w. ditampilkan selaku panutan ummat dan semesta dengan berbagai rangkaian derita pengorbanan, tiada kata yang patut dan dapat diungkapkan dari kedalaman lubuk-hati sekaligus sebagai tanda ungkapan penghargaan atas jasa besar beliau yang telah mengeluar-entaskan hidup dan kehidupan manusia dari belenggu kejahilan selain ungkapan-kata: “Salam-shalawat kami haturkan kepada Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad s.a.w. kekasih Allah”.

Meskipun berjarak-jauh dari zaman kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., namun ketauladanan beliau tidak pernah tenggelam ditelan masa, justru tampak semakin berakar dan berkekekalan. Sekalipun orang-orang kafir membencinya, bahkan selalu berupaya memadamkan ketauladanan cahaya kebenaran yang ditampilkan Allah pada pribadi Nabi Muhammad s.a.w., namun hal itu tidak akan pernah terjadi. Salah satunya yang senantiasa diperjuangkan Rasulullah Muhammad s.a.w. ialah mengajak ummat manusia tampil di tengah-tengah kehidupan semesta selaku makhluq “berbudi-budaya” yang luhur. Dalam hal ini budaya dan budi merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, keduanya terangkai-ikat dalam wadah kepribadian. Adapun budi dapat dikatakan sebagai alat pengikat-kendali pertumbuhan suatu budaya. Budaya yang tidak diikat-kendali oleh budi akan melahirkan budaya biadab, lepas dari segala nilai-nilai kemanusiaan; sifatnya cenderung merusak-hancurkan tatanan kehidupan bersemesta.

Haiti earthquake

Budaya yang lepas dari kendali budi tidak akan pernah melahirkan keilmuan pasti, yang ada hanyalah pengetahuan yang belum tentu bernilai kepastian. Dalam hal ini budi terlahir dari akhlaq-pekerti yang indah-terpuji, kemudian berkembang menjadi budaya berkepribadian, baik dalam pengertian budaya masyarakat maupun budaya bangsa. Budaya yang tumbuh-berakar dari budi akan membentuk kepribadian bangsa yang luhur. Apabila arah perjalanan hidup bangsa tetap lurus di atas nilai kepribadiannya, tidak mustahil negeri-bangsa Indonesia ini akan menjadi negeri yang besar dalam arti berkemakmuran. Kehidupan masyarakatnya rukun-damai-bersahaja karena terikat oleh tali kesatuan yang bernilai tauhid. Hanya pribadi yang mengenal dengan pasti kepribadian bangsanya yang bernilai Qur’anilah, yang dapat mengeluarkan kehidupan bangsa ini dari jerat-kesulitan. Selanjutnya pribadi itu baru dapat membawa-hantarkan hidup dan kehidupan masyarakat-bangsanya meraih kemakmuran hidup yang bersahaja.



Bagian ini merupakan bagian ke-3 sekaligus menutup penulisan ulang yang dikerjakan oleh Taufik Thoyib dari Muqaddimah buku “Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia” (1422H) buah pena Ki Moenadi MS almarhum, semoga ridha Allah tercurah kepadanya, amin. Untuk sajian lengkap ketiganya, lihat dan/atau unduh e-book "Akhlaq Pribadi Terdidik Ilaahi Rabbi: Kajian Pengantar Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia" – Admin.





0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.