Kamis, 02 Agustus 2012

Membaca Al Qur’an: Menggali Nilai-Nilai Keilmuannya untuk Kebangkitan Ummat?


Korupsi bukan hanya merajalela, tetapi sudah mulai menjadi mentalitas bangsa! Akan tinggal diamkah ummat Islam? Kebangkitan yang diidam-idamkan ummat Islam, mustahil bersandar pada keunggulan peradaban Yhd yang pasti penuh kepalsuan. Yhd menolak kegaiban, dan terlnaknat sepanjang masa, bahkan dimurkai (al maghdhuub). Satu-satunya jalan ialah Al Qur'an. Sayangnya, Al Qur'an hanya dijadikan bacaan-indah, terutama di Bulan Ramadhaan. Bukan digali-kaji dan diterapkan kandungan nilai-nilai keilmuannya untuk mengawali dan meyelenggarakan perbaikan mendasar!

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuhkan" (QS 25:30).


Membaca Al Qur’an: Menggali Nilai-Nilai Keilmuannya untuk Kebangkitan Ummat?





ejarah telah membuktikan, bahwa setiap Allah mengutus seorang rasul di tengah-tengah kegelapan dan kebodohan hidup, pasti kebangkitanlah yang ditawarkan, dan kebangkitan itu mutlaq harus terjadi. Dalam hal ini, tidak satupun yang dapat menghalangi munculnya suatu kebangkitan. SETIAP MUNCUL PERLAWANAN UNTUK MENGHALANGI MUNCULNYA KEBANGKITAN, PASTI KEHANCURAN MENDASAR TERJADI, barulah kemudian muncul kebangkitan.

Perlu diingat, bahwa setiap kehancuran hampir mencapai melanda kehidupan bersemesta, sebelumnya Allah datangkan para rasul terlebih dahulu untuk menyelamatkan orang-orang yang Allah kehendaki dari kehancuran. Yaitu, orang-orang yang hak-hak kehidupannya tertindas namun hati mereka tetap teguh dengan Allah. Itulah orang-orang yang akan diselamatkan oleh rasul yang telah Allah utus, yang kemudian mereka pulalah yang akan tampil sebagai pengganti kaum yang telah Allah hancurkan. Dalam hal ini kebangkitan memang menjadi satu-satunya harapan ketika kehancuran telah dekat masanya, khususnya harapan bagi makhluq-makhluq bukan hanya manusia, melainkan juga sebagian besar makhluq semesta yang hak-haknya sudah sangat lama tertindas. Untuk itu sangat disayangkan sekali, rahasia kebangkitan yang sebenarnya ada ditangan ummat Islam nyaris tidak diketahui dengan jelas dan tidak pula dapat diwujudkan dalam kehidupan ini. Akhirnya ummat Islam hanya berulang terbuai oleh perubahan-perubahan yang dilakukan oleh orang-orang Yhd+Nsr. Boleh jadi menurut pandangan mereka, perubahan-perubahan yang sedang diupayakan adalah dalam rangka menuju kebangkitan hidup. Tidak disadarinya, jika perubahan yang diupayakan oleh Yhd+Nsr adalah dalam rangka menuju kehancuran hidup bersemesta.

Sudah demikian jauh nurani manusia menuntut adanya suatu kebangkitan dan perubahan dalam kehidupan. Tetapi belum juga muncul kesadaran untuk kembali kepada Al Qur’an, khususnya di kalangan ummat Islam.
Inilah bukti bahwa ummat Islam sudah semakin jauh dari Al Qur’an. Meskipun Al Qur’an masih sempat terbaca, tetapi membaca bukan dalam artian menggali keilmuannya. Al Qur’an dibaca sebagai bacaan yang dicetak, atau unsur tulis penanda bunyi bertanda baca yang membentuk kalimat. Dan hanya kalimat-kalimat itulah yang dibaca --dengan pengeras suara dan bahkan dilombakan-- tanpa sedikitpun tertimba keilmuannya. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuhkan" (QS 25:30). Memang tidak mudah menanamkan keyaqinan ke dalam hati sekian banyak muslim, bahwa kebangkitan dan perubahan itu hanya ada di tangan ummat Islam. Mereka yang tidak sadar itu telah termabuki oleh perubahan yang dilakukan orang-orang Yhd+Nsr. Sehingga dalam pandangan muslim yang tidak sadar, untuk mengadakan gerakan menuju kebangkitan dan perubahan, ilmunya hanya dapat dikaji dan dipelajari dari mereka.

Kesimpulannya, meskipun tampaknya orang-orang kafir (Yhd+Nsr) berupaya maksimal bangkit meraih kesempurnaan hidup, namun haqiqinya upaya yang dilakukan itu tidak lebih dari pada sekedar jebakan kehancuran. Untuk itulah, suatu perjuangan besar yang sebenarnya harus dilakukan ummat Islam jika benar-benar hendak mewujudkan munculnya kebangkitan di tanah air ini. Sedangkan perjuangan pertama yang harus dilakukan ialah memberikan kesadaran dalam berfikir ummat Islam, bahwa kebangkitan itu hanya akan terjadi dan terlaksana jika ummat Islam mau melepaskan dirinya dari pola kehidupan orang-orang kafir (Yhd+Nsr). Kebangkitan itu berada di tangan ummat Islam yang mau kembali secara utuh kepada Al-Qur’an --bukan di tangan orang-orang kafir (Yhd+Nsr), sebagaimana anggapan yang melekat pada diri ummat Islam saat ini. Dalam hal ini, sudah terlalu lama Al-Qur’an ditinggalkan oleh ummat Islam. Padahal satu-satunya modal kebangkitan adalah kembali kepada Al-Qur’an secara utuh.

Al-Qur’an bukanlah sekedar dibaca dengan memperindah nada-lagu bacaannya, melainkan untuk digali dan ditimba isinya! Itulah sebenar-benarnya modal kebangkitan. Jika kesadaran itu telah tumbuh dalam masing-masing pribadi ummat Islam, maka akan sangat mudah untuk mewujudkan kebangkitan. Sulitnya kebangkitan diwujudkan, karena tidak adanya kesadaran pada masing- masing pribadi ummat Islam. Padahal masa kehancuran itu benar-benar sudah berada di depan mata ummat Islam. Dalam hal ini tinggal menanti, adakah ummat Islam yang akan tampil menyambut kehancuran dalam arti siap mengadakan kebangkitan dan pembaharuan secara menyeluruh? Jika ada sekelompok ummat Islam yang sudah siap tampil menyambut kehancuran, maka kehancuran itu akan terjadi. Tetapi disayangkan, ummat Islam belum juga menyadarinya, bahkan masih juga terbuai oleh perubahan-perubahan yang sedang diupayakan oleh orang-orang kafir (Yhd+Nsr).

Dalam hal ini, antara kehancuran dan kebangkitan letaknya sangat berdekatan sekali namun keduanya memiliki tabir pemisah yang sangat tebal. Meskipun letaknya sangat berdekatan tidak pernah saling bertemu. Dalam hal ini yang muncul pasti salah satunya, di saat kehancuran terjadi seketika muncul kebangkitan. Begitu pula sebaliknya, ketika kebangkitan mendesak untuk muncul, turun kehancuran. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh ummat Islam ialah PERJUANGAN UNTUK MEMBANGKITKAN KESADARAN UMMAT ISLAM TIDAK AKAN PERNAH TERJADI, JIKA PERJUANGAN TERSEBUT DILAKUKAN TIDAK DENGAN AL-QUR’AN. Yang dimaksud perjuangan dengan Al-Qur’an adalah perjuangan untuk menggali kembali isi Al-Qur’an, sebagaimana yang dijelaskan pada firman, yang artinya: “...dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an dengan jihad yang besar” (QS. 25:52). Pada ayat tersebut dinyatakan perjuangan atau jihad yang dilakukan adalah perjuangan atau jihad yang besar, berarti bukan perjuangan atau jihad sambil lalu atau setengah-setengah. Sekali kaki dilangkahkan ke arena perjuangan, tinggal pilih satu antara dua: maju terus sampai kemenangan diraih, atau mati di saat memperjuangkan. Dalam hal ini, tidak ada lagi istilah berfikir-fikir ulang untuk mundur melangkah karena cemas, takut, khawatir. Kapan tersirat hasrat untuk mundur melangkah, berarti mengundang hadirnya kehancuran menimpa diri. Pertanyaannya, mengapa perjuangan atau jihad membangkitkan kesadaran ummat Islam diperlukan dengan Al-Qur’an? Karena ummat Islam itu sendiri sudah terlalu lama meninggalkan Al-Qur’an. Maka mereka yang sudah terlalu lama pergi meninggalkan Al-Qur’an mesti diseru terlebih dahulu untuk kembali kepada Al-Qur’an.



Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 7/12/1997 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang. Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan. Bagian pertamanya adalah Nurani Manusia Menuntut Kebangkitan untuk Meraih Puncak Kesempurnaan Hidup) -Admin

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.