Senin, 22 Agustus 2011

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #7

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #7
Mensyukuri Fitrah, Berkedudukan Khalifah



Marilah kita luangkanlah sedikit waktu untuk merenung-perhatikan tanaman rumput (lihat QS. 35:9 yang dikutip juga sebagai Ayat Pembuka Tulisan Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #6 di bawah). Meskipun bentuk jasadnya hancur di bawah sorotan sinar matahari maupun di atas kerasnya tanah yang ditempati. Di saat hujan turun membasahi bumi, rumput mati dapat memanfaatkannya. Artinya rumput mensyukuri keberadaan hujan untuk bangkit dari kehancur-matian dan menggelar kesegaran dan kesuburan hidup. Kesyukuran sikaplah yang telah mendorong sang rumput untuk bangkit dari kehancur-matian. Meskipun pada akhirnya kesegaran dan kesuburan sang rumput hanya dihabisi oleh hewan gembalaan tidak beraqal, bukan berarti membuat sang rumput mundur dari kebangkitan menyajikan kesegaran dan kesuburan. Justru hal itu semakin mendorong semangat rumput untuk terus mengembangkan kesegaran dan kesuburannya dengan cara mensyukuri, mendaya-manfaatkan keberadaan air hujan. Demikian itulah kemuliaan sikap hidup telah berhasil diraih-capai oleh sang rumput dengan melalui langkah mensyukur-daya-manfaatkan keberadaan air hujan.



...dropcap S...
yukur adalah kata kunci keselamatan hidup. Dengan demikian nyatalah sudah keberadaan rahmat Allah terutama di Bulan Rahmat Ramadhan ini adalah selaku alat untuk menghidup-tumbuh-kembangkan kembali unsur daya potensi-bakat manusia yang telah hancur-mati dengan cara bersyukur, hingga dapat mencapai kembali derajat kemuliaan di sisi Allah. Tentu kebangkitan unsur daya potensi-bakat tidak dapat begitu saja berlangsung tanpa ada upaya kesungguhan sikap mensyukuri dan mendaya-manfaatkan keberadaan rahmat Ramadhan secara kaffah: shiyam, membaca-amalkan Al Qur’an, zakat, infak,shadaqah, berjuang penuh kesungguhan untuk tegaknya nilai-nilai Islami dalam perbuatan yang ikhlas, dan seterusnya . Tegas dapat dinyatakan sampai kapanpun derajat kemuliaan tidak akan dapat diraih-capai oleh siapapun manusianya, jika ruhaninya berkeadaan hancur-mati tidak berfungsi. Jika tidak berhasil meraih-capai derajat kemuliaannya mustahil manusia menyajikan buah kemakmuran di tengah-tengah kehidupan.

Yang dapat menyajikan buah kemakmuran hidup hanyalah orang-orang yang mempunyai derajat kemuliaan di sisi Allah --bukan di sisi makhluk. Meskipun makhluk sejagad memberikan sederetan mata rantai julukan derajat kemuliaan, bila Allah belum memberikannya maka derajat kemuliaan yang dipasangkan makhluk, bisa jadi justru kehinaan mendasar di sisi Allah. Itulah sebabnya orang arif lagi bijak tidak pernah mau menerima apalagi bergeming-hati terhadap pemberian derajat kemuliaan dari sesama makhluk. Kemakmuran baru dapat terwujud bila keberadaan manusia dapat merajut seluruh unsur dzat ketenagaan hidup bersemesta tetap dalam keadaan hidup-tumbuh-berkembang tanpa ada satupun fihak yang dirugikan keberadaannya. Jika demikian, apa yang perlu ditumbuh-kembangkan terlebih dahulu?

Sudah barang tentu unsur daya potensi-bakat pada manusia harus terlebih dahulu berkeadaan hidup-tumbuh-berkembang secara santun-berkesetimbangan, karena yang memimpin gerak perputaran dzat ketenagaan hidup sesuatu di alam semesta adalah unsur dzat ketenagaan hidup pada manusia. Itulah artinya, manusia dapat meraih, dan menobat-abadikan mahkota kekholifahannya. Jika berhasil mewujudkannya, itulah yang dimaksudkan bahwa keberadaan kholifah di atas bumi adalah rahmat bagi kehidupan semesta, sebagaimana keberadaan Rasulullah Muhammad saw selaku rahmatan lil ‘alamin.

Untuk mengikuti tauladan Nabi saw selaku rahmatan lil ‘alamin, terutama hal yang Allah perbaiki lebih dahulu adalah pola berfikir, karena yang telah merusak-hancurkan tatanan rajutan kehidupan bersemesta adalah pola berfikir manusia yang lepas-bebas dari ketentuan kaidah Qur’ani. Semua itu merupakan perwujudan nyata atas karunia-rahmat yang Allah pancingkan kepada para hamba-Nya yang sejati, untuk membangun kesadaran agar bangkit dari kematian panjang. Sejak ummat Islam berhasil dijebak oleh Yhd masuk ke dalam lubang kemunduran dan kebodohan berfikir, sangat sedikit ummat Islam menyadari bahwa pola berfikir dan pandangan hidup Yhd yang berlangsung dan berkembang saat ini telah merusak-hancurkan tatanan rajutan kehidupan. Akibatnya, keberadaan bumi yang sebenarnya tempat menghidup-tumbuh-kembangkan kemakmuran telah gagal diusaha-upayakan manusia. Saksikanlah kerusakan alam pada skala bumi maupun tanah air pertiwi Indonesia!

Hal demikian itu terjadi karena kemunduran dan kebodohan berfikir mengikuti pola Yhd yang menjauhkan manusia dari Allah. Sejujurnya, marilah kita jawab, apakah ilmu-ilmu “modern” yang disiarkan oleh Yhd menjadikan kita makin dekat Allah? Bukankah yang ada hanyalah pola fikir berdasarkan dugaan dan penuh perkiraan. Alangkah rendahnya nilai suatu keyakinan jika sang penetapnya adalah anggapan-perkiraan. Meskipun telah nyata kerusakan dan kematian yang dihasilkan dari anggapan-perkiraan, tetap saja anggapan manusia menanamkan keyakinan padanya, bahwa segala langkah-kegiatan yang berkaitan bidang ilmu dianggap sebagai amal sholeh dan disangka berpahala lipat ganda. Salah satu bentuk kemunduran dan kebodohan berfikir ummat Islam: sesuatu yang belum diketahui kepastiannya “dipasti-pastikan dengan anggapan-perkiraan” dirinya. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS 10:36).
Sebagai penutup, marilah kita renungkanlah firman Allah ini:

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. (QS. 6:36).


Tulisan di atas merupakan bagian dari penjelasan Ki Moenadi MS (alm) pada kesempatan kajian keilmuan di Yayasan Badiyo, 08/2000, dengan penyesuaian redaksional dari Taufik Thoyib. Tulisan di atas sekaligus mengakhiri Seri Ramadhan Indonesia Merdeka. Wa taqabballaahu minna wa minkum, minal 'aidiin wal faiziin, seluruh jajaran aktifis Kajian Budaya Ilmu memohon maaf bathiniyah dan lahiriyah, selamat Hari Raya Fithri 1432H –Admin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.