Senin, 07 Juni 2010

Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya!

...QS 45:23...


Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (ilaah atau andalannya) dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat karena ia memilih kesesatan). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45:23).


Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya!


...drop capital B...ait terakhir Kelompok Syair (stanza) 2 Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di atas menghantar pada sebuah perenungan. Apakah pengertian sadar? Bagaimana keadaan hati yang sadar? Sadar adalah keadaan tiap unsur daya potensi ketenagaan manusia berfungsi sesuai dengan ketetapan dari Allah untuknya, sebagai berikut (lihat tulisan ”Akhlaq: Ukuran Pertama Kepribadian Manusia”):

● Ruh yang senantiasa menjaga hubungan baik sampai pada tingkat aqrab dengan Allah.
● Rasa yang lembut-halus, mampu menjangkau kehidupan alam getaran-ketenagaan.
● Hati yang melahirkan keilmuan yang berketepat-bijak-pastian.
● ‘Aqal yang melahirkan kecerdikan tingkat tinggi.
● Nafsu yang tampil dengan sifat keindahan dan keterpujian.

Apakah yang dimaksudkan dengan keindahan dan keterpujian nafsu? Dengan keadaan ini, nafsu tidak lagi memperturutkan syahwat duniawinya, tetapi dengan panduan ‘aqal, berfungsi sekedar sebagai pelaksana rencana dan kehendak Allah. Nafsu yang fitrahnya bukan selaku unsur daya potensi penangkap pemberitaan dari sisi Allah, tak lagi melanggar batas peran tersebut.

Mendidik Nafsu agar Ridha terhadap Allah


Perahu Nuh?
Situs yang diduga para arkeolog sebagai tempat terdampar perahu Nuh, di Dogubayazit, Turki, 17 mil di Selatan Gunung Ararat. Marilah kita renungi firman Allah: "Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah..." QS 14:9. Diperhatikankah ayat itu oleh kesombongan logika-nafsu manusia yang mengaku berilmu yang menduga-duga menurut syahwatnya?

Sebagian besar manusia kini tak memahami dengan jelas fungsi dari unsur daya potensi ketenagaan dalam dirinya, karena logika-nafsunya telah menolak petunjuk Allah pada hati. Logika-nafsu yang menjadi pemimpin diri, memilih jalannya sendiri dan menolak petunjuk Allah. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat karena ia memilih kesesatan) (QS 45:23). Tamsil dalam kisah Nabi Nuh a.s. menjelaskan bahwa pandangan logika-nafsu anak Nuh, akhirnya telah memisahkannya dengan sang ayah, karena tak mau mentaati imbauan masuk ke dalam perahu. Anak Nuh tertipu kesombongan logika-nafsunya sendiri, yang tak menyadari bahwa sang ayah sesungguhnya adalah seorang Rasul Allah yang membawa kaumnya pada keselamatan haqiqi. Kaum anak Nuh yang menolak masuk ke dalam golongan orang-orang berperahu itu adalah contoh manusia-manusia yang terpimpin hawa nafsunya. Gunung, materi yang tinggi menjulang, menurut logika-nafsu mereka, dapat menyelamatkan hidup mereka. Tetapi dugaan logika-nafsu mereka ternyata salah. Perahu Nuh-lah yang selamat. Jarang yang menyadari bahwa materi duniawi yang dilihat kasat mata kepala, sering bahkan selalu menipu manusia. Bagaimana manusia tertipu?


DescartesPendaftaran wisuda Descartes di Royal College Henry-Le-Grand, La Flèche, 1616. Ia dikenal memecah- belah ilmu menjadi disiplin-disiplin dan meletakkan dasar filosofi logika-nafsu "Cogito ergo sum" (Prancis: Je pense, donc je suis, aku [logika-nafsuku] berpikir, maka aku ada). Keberadaan sesuatu ditergantungkan mutlak pada pikiran logika-nafsu manusia, bukan dipaham-sadari sebagai ciptaan Allah.

Manusia tertipu kesombongan anggapan logika-nafsunya sendiri. Pada zaman ini, sayangnya sebagian besar manusia hidup justru dengan dipimpin oleh kebutaan nafsunya, karena tujuan hidupnya adalah materi-duniawi semata. Materi duniawi menjadi kesadaran nafsu yang masih belum dewasa, lagi pula tercela. Materialisme nafsiyah kini merebak ke seluruh penjuru jagad sebagai pandangan hidup dan keilmuan modern yang dipandang sebagai wahana penghantar ummat manusia ke arah yang lebih "maju". Akhirat bukan hanya tak dipahami, tapi bahkan dilenyapkan dari sistem pengetahuan mereka. Yang duniawi pun dipecah-pecah dalam disiplin-disiplin yang memperpicik pengetahuan. Masing-masing pecahan hanya tahu rasionalisme bidang-sempit pandangannya saja. Pernahkah ilmu-ilmu di kampus di negeri ini menterpadukan arah keselamatan hidup-akhirati dalam inti-dasar (ontologi) keilmuannya? Tidak! Kehidupan keilmuan di negeri ini bahkan sangat taqlid membebek-buta materialisme. Ciri dari mereka yang arah perjalanan hidupnya hanya duniawi saja lebih mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain adalah, yang dipedulikan dan diperjuangkan hanya kepentingan dan kenikmatan badannya semata. Bila jasadnya sakit, maka dengan segala daya-upaya ia memperjuangkan kesembuhan. Namun jika ruhaninya sakit terbebani rasa dendam-marah, putus asa-kecewa akibat sifat sombong-dengki-serakah yang mengkristal dalam khayalan, anggapan, dan angan-angan, maka hanya sangat sedikit upaya yang dilakukan untuk menyembuhkannya. Nafsu yang sudah mulai terdidik ke arah terpuji, berangsur-angsur akan beralih, dari nafsu angkara yang hanya mengajak bermaksiat terhadap Allah, menjadi nafsu yang ridha terhadap segala kehendak dan rencana Allah. Dengan sifat-keadaan serba lega-gembira terhadap keteapan Allah, akhirnya si manusia pasti diridhai-Nya. Kehidupannya tenang tenteram dalam nuansa surgawi; menghadapi segala keadaan, ia serba dianugerahi rahmat petunjuk serta berada dalam pertolongan Allah.

Kesadaran terhadap Keberadaan Allah: laa ilaaha illallaah

Kesadaran dapat beralih-ingsut mengikuti kedewasaan nafsu. Untuk pribadi yang telah dewasa ruhaninya, kesadaran tersebut terpusat pada hati. Dikatakan bahwa hati adalah guru sejati, karena haqiqatnya, hati berfungsi mewadahi tetesan petunjuk sebagai bukti kasih-sayang ilahi berupa pemberitaan dari sisi Allah: ”Barang siapa beriman kepada Allah, maka Allah memberi petunjuk pada hatinya” (QS 64:11). Dengan kesadaran hati berbekal petunjuk ilahi, manusia menelaah keadaan diri dan lingkungannya untuk menanggapi perubahan keadaannya dengan tepat-pasti dan bijak-cendekia.

Kesadaran hati itu merupakan sumur dan bahkan telaga air kebudayaan luhur yang tak kunjung kering. Makin digali di setiap lokal atau bahagian negeri, makin deras dan murni air yang memancar, seraya tak henti pula menyuguhkan kebaharuan kebudayaan itu dengan asas keberpihakan kepada rakyat. Mineral yang dikandung air murni sumur-sumur budaya lokal itu sebenarnya merupakan kesatu-kesatuan fithrah negeri dan bangsa yang selama ini terpendam oleh bermegah-megahnya gaya hidup keduniawian yang membuat lengah. Maka tahap paling penting dan sulit-mendaki ialah membuat rajutan, jalinan, atau perkelindanan tak hanya dari puluhan budaya lokal, tetapi bahkan dari ribuan nilai-nilai luhur negeri yang akan terwujud-padukan berupa untaian zamrut khatulistiwa Nusantara. Ungkapan ini sendiri mempunyai makna yang luas dan dalam. Jarang yang memahami bahwa ruh budaya hanya bisa hidup dalam kerangka fitrah manusia. Jadi, jika fitrah manusia rusak, rusak pulalah budaya dan alam karena manusia tak lagi dapat menjaganya. Dengan sendirinya, tak ada lagi budaya luhur yang dapat ditumbuh-kembangkan; makin lenyap pulalah keberadaban dan kesantunannya terhadap sesama dan alam. Kesadaran hati dan budi ini adalah buah nyata dari penerapan Pancasila, khususnya Sila ke-2. Kesadaran hati dan budi adalah buah dari tumbuhnya fitrah manusia atau benih kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bila berhasil menerapkan konsep di atas, maka Indonesia Raya yang akan muncul ialah Indonesia Raya yang merdeka, lepas-bebas dari tekanan politik-budaya pihak asing yang merupakan topeng kepentingan ekonomi pasca-kapitalistik mereka. Indonesia Raya akan menggali, menumbuhkan, dan mengembangkan budaya negerinya. Budaya negeri yang dimaksudkan ialah budaya yang tepat dengan fitrah manusia dan alam Nusantara, yaitu bumi-budaya Indonesia. Yang akan berposisi sebagai pandega atau garda depan perubahan, adalah budaya bahasa kaum (lokalitas dalam segala aspek peradaban, dari bahasa, seni, sampai arsitektur kota dan penataan wilayah) yang bermuatan nilai-nilai meluhurkan budi-pekerti manusia di hadapan Allah, sesamanya, dan alam semesta. Dalam budaya bahasa nasional yang substansinya memperkokoh kesatuan, implementasi konsep ini antara lain lagu kebangsaan kita Indonesia Raya. Perubahan dengan konsep budaya bahasa kaum tidak akan menimbulkan kegolakan sosial, bila landasan kemerdekaan politik-ekonomi telah tergelar (lihat Bagian 1 tulisan ini). Sedikit demi sedikit atau berangsur-angsur namun pasti, ketergantungan tata nilai globalism (yang sebetulnya tak lain adalah dominasi politik kebudayaan euro-americentrism di atas peradaban bangsa-bangsa dunia; lihat tulisan tentang Eurocentrism) akan pupus tergantikan, terutama lewat jalur politik budaya kebahasaan. Inilah terapan dari yang dikatakan bahwa kemerdekaan ialah hak semua bangsa. Jelasnya, kemerdekaan budaya adalah hak semua bangsa: Indonesia merdeka secara budaya.

Akhirnya perlu dicatat, sesuai dengan makna tiga kelompok syair (tiga stanza) Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, bahwa Indonesia mesti merdeka tiga kali. Merdeka secara politik-ekonomi, merdeka secara budaya, dan akhirnya merdeka untuk menyebarluaskan nilai-nilai luhurnya, ke seluruh penjuru dunia. Penyebarluasan nilai-nilai luhur sangat jauh dan sama sekali bukan kolonialisme apalagi imperialisme. Tapi itulah andilnya untuk ikut menertibkan dunia dengan azas keadilan dan kedamaian. Indonesia Raya bukan konsep penjajahan. Dikatakan, itulah Bangsa Indonesia yang Merdesa, atau yang berharkat-martabat luhur. Bagaimana itu? Ikuti terus seri kajian ini.

Galih W. Pangarsa



0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.