Senin, 08 Agustus 2011

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #3

Seri Ramadhan Indonesia Merdeka #3
Negeri Kesayangan dan Rahmat Ilaahi (NKRI), Hanya Sesuai dengan Hidup Makmur Bersahaja





Bagaimana dan harus dari mana Indonesia melakukan perbaikan? Sayangnya, bisa jadi para pemimpin dan masyarakat muslim terlupa bahwa Indonesia Ibu Pertiwi dilahirkan melalui rahmat Allah! Jika tidak terlupa, dari sikap mensykuri rahmat Allah itulah bangsa ini dapat melangkah bersama dengan pasti.


...dropcap B...


angsa kita di masa lalu tampak dapat menghirup-rasakan “kebebasan”, karena tidak ada lagi campur tangan fihak lain dalam mengarah-tentukan roda perjalanan hidup bangsa. Keadaan demikian itu hanya berlangsung sesaat. Seterusnya tampak ada upaya-upaya fihak-fihak tertentu hendak memanfaatkan dan menyetir kemerdekaan dengan memasukkan faham-pandangan mereka. Yang sangat merusak mentalitas bangsa ini ialah materialisme. Bangsa ini dibujuk untuk hidup makmur bergelimang kemewahan. Padahal hal itu tak sesuai dengan fitrah manusia dan alam Indonesia. Juga, bangsa ini terbuai dengan individualisme Yhd, yang bisa saja mewujud sebagai kepentingan diri-suku-kelompok maupun partai tertentu. Dari sinilah awal timbulnya gejolak yang menggoyah-goncangkan nilai peradaban bangsa yaitu KESATUAN-PERSATUAN BANGSA, sehingga ujian demi ujian terus bergulir. Kesadaran apa yang dapat menggugah bangkit kebersamaan anak negeri ini?

Jika segala kekuatan dan semangat kebersamaan sudah terjalin-erat di antara anak bangsa, maka yakinlah, satu-persatu guliran kerikil batu-batu ujian dapat disingkirkan; keutuhan negeri-bangsa tetap terjaga. Namun jika keadan itu tidak tercapai, keutuhan tali kesatuan-persatuan bangsa tidak dapat dipertahankan, terbukti satu demi satu buhul pengikat kesatuan-persatuan dari bumi Ibu Pertiwi lepas-terpotong. Contoh yang sangat jelas, asas musyawarah telah tergantikan dengan demokrasi. Musyawarah adalah ajaran Islam; asasnya saling memberi berlandaskan kasih sayang; kebenarannya adalah Kebenaran Ilaahiyah. Demokrasi berasas saling meminta; kebenarannya adalah kebenaran relatif atau mayoritas. Pernahkah para nabi Allah meraih suara mayoritas? Mereka pasti minoritas, namun membawa sekalian manusia ke arah Kebenaran Ilaahiyah, atau kebenaran hakiki.

Pertikaian antar anak bangsa yang mengisyaratkan tuntutan pelepasan diri dari bumi Ibu Pertiwi kini makin nyata, dan berlangsung tidak henti-hentinya. Satu demi satu aset negera lepas ke fihak luar. Di dalam penyelenggaraan pemerintahan, segala bentuk kecurangan makin meraja lela. Alhasil Indonesia Ibu Pertiwi di saat ini dalam keadaan badan terkoyak-koyak bergelimang-bersimbah semburan darah sabitan pisau pertikaian anak bangsa. Jatuh-bangun Indonesia Ibu Pertiwi mempertahankan utuhnya kesatuan-persatuan kepulauan bumi Ibu Pertiwi beserta putra-putri tunas bangsa dari rongrongan perpecahan.

Dengan segala kelemahan tak berdaya, terseok-seok langkah Ibu Pertiwi bangkit berupaya menghimbau menghimpun putra-putri anak bangsa, untuk sesaat luangkan waktu membangun kembali rasa kebersamaan “sesakit sependeritaan, senasib seperjuangan dan sepenanggungan” sebagaimana dahulu pernah berlangsung (mengantarkan Indonesia Ibu Pertiwi naik ke tangga kehormatan dunia yaitu merdeka). Dari rasa kebersamaan bangkit bersatu bergandeng tangan leburkan segala bentuk kepentingan diri menuju keluhuran pekerti di perenungan suci untuk menggali-timba pelajaran berharga. Bagaikan ibu yang sedang memberikan tutur-nasehat kepada anak-anak yang saat ini sangat rentan dipancing pertikaian perpecahan. Hati seorang ibu mana yang tidak duka-lara menyaksikan satu-persatu anak-anaknya baik dalam pengertian manusianya maupun kepulauan besar-kecil memperlihatkan gejolak tuntutan pemisahan diri. Seolah, Ibu Pertiwi menyeru kepada anak-anak putra-putri Indonesia: “Ingat dan ingatlah wahai anakku putra bangsa! Kemerdekaan yang selama ini berlangsung semata-mata adalah rahmat dari Allah. Kemerdekaan yang dihadiah-berikan Allah kepadamu hai anak-anak-ku putra bangsa, bukanlah untuk membangun kepentingan-kemewahan peribadi-suku-daerah-kelompok dan partai tertentu, melainkan untuk modal pembangunan semesta yang akan mengkatlah harkat-martabat kehidupan bangsa. Ummat Islam seharusnya berperan utama, dan senantiasa hendaknya mewaspadai diri-sendiri. Ummat Islam akan sangat mudah dilemah-goncangkan kesatuan dan persatuannya oleh hal-pemberian Yhd yang bersifat menguntungkan kepentingan diri dan bersifat materialistik atau keduniawian”.

Rasulullah s.a.w. memberi nasehat sebagai berikut:

Siapa yang niyatnya adalah akhirat maka Allah akan menghimpun baginya semuanya, dan dijadikan kaya hati, dan datang kepadanya dunia merendah diri. Dan siapa yang niyatnya adalah dunia maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinannya selalu membayang di ruang matanya dan tidak akan datang kepadanya dunia kecuali yang ditentukan baginya.

Siapa yang telah meresap dalam hatinya cinta dunia, maka terikat hatinya dengan tiga hal: 1. Kesibukan yang tidak akan terlepas kesukarannya. 2. Angan-angan yang tidak ada ujung puncaknya. 3. Kerakusan yang tidak dapat mencapai kekayaan atau kecukupannya. Sedang dunia dan akhirat sama-sama kejar mengejar, maka siapa yang mengejar akhirat dikejar oleh dunia sehingga menerima cukup daripadanya rizqinya, dan siapa mengejar dunia dikejar oleh akhirat sehingga tiba matinya yang mencekiknya dengan tibatiba dan mendadak.

Setelah meresapi pemahaman dan pengertian kedua hadits tersebut, mudahlah melebur kembali seluruh unshur-unshur kepentingan diri-suku-daerah-kelompok-partai dengan bijak dan terselubung dibungkus-persatukan dalam wadah dasar negara yang inti dasar asasnya ada pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, hanya mereka yang bertauhid-murni sajalah yang dapat menyelenggarakan perbaikan bangsa dan negeri ini. Pribadi yang belum bertauhid murni, bersyari’ah bersih, dan berakhlak terpuji sebagaimana tauladan Nabi s.a.w. sampai kapan pun tak akan dapat memperbaiki keadaan, apalagi mereka yang kafir (menutup diri terhadap, atau menolak Islam). Hanya yang bertauhid murni sajalah yang dapat memperbaiki Indonesia.

Tulisan di atas merupakan bagian dari buah pena Ki Moenadi MS (alm) tahun 2001, berjudul “Indonesia-Ku, Pengantar Kami”, dengan penyesuaian redaksional dan beberapa tambahan informasi mutakhir dari Taufik Thoyib. –Admin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.