Kamis, 22 April 2010

Fithrah Manusia: Ingin Mengetahui Yang Haqiqi

...QS 46: 26-7...


Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. (QS. 46:26)
. Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). (QS. 46:27)

Fithrah Manusia:
Ingin Mengetahui Yang Haqiqi



...dropcap S...ebenarnya bila manusia, khususnya ummat Islam mau membuka hati selebar-lebarnya, mereka akan melihat bahwa bentangan kehidupan di muka bumi ini penuh Allah hiasi dengan tanda-tanda kebesaran-Nya. Dengan kata lain, semua yang ada di tengah-tengah kehidupan ini merupakan ayat-ayat Allah. Meskipun hanya sejentik nyamuk yang terdapat di air kotor-menggenang dan tampaknya tak berguna bagi kehidupan manusia, itu pun merupakan bagian dari ayat-ayat yang diberikan-Nya kepada manusia, agar manusia mau mempelajari dan memahami isinya secara tepat pasti. Setelah itulah, baru manusia dapat mengetahui manfaat-gunanya. Selama tanda-tanda yang ada di semesta atau yang juga sering disebut sebagai ayat-ayat kauniyah itu sulit dipahami secara tepat-guna, selama itu pula tanda-tanda itu tampak tidak berguna bagi kehidupan manusia.
...menunggu gambar jentik nyamuk...
Mustahil Allah mencipta sesuatu yang tak berguna.

Iblis sekali pun, awalnya diciptakan agar bermanfaat. Namun iblis telah memilih dan ditetapkan Allah menjadi sumber petaka-kemudharatan. Sudah barang tentu sarana yang diperlukan untuk membaca tanda-tanda yang Allah bentangkan di muka bumi ini adalah hati dan aqal. Demikian itulah cara Allah membimbing manusia agar dapat memahami tanda-tanda-Nya. Sayang, pada kenyataannya banyak manusia yang buta terhadapnya. Dengan demikian, keberadaan ayat-ayat kauniyah merupakan sarana tempat manusia belajar dan bertanya kepada Allah, sekaligus sebagai sarana untuk mengolah dan memfungsikan unsur daya potensi ketenagaan di dalam diri si manusia. Juga, untuk memancing manusia agar terbit gelitik-goda di dalam hatinya, supaya terbit rasa untuk ingin tahu ketepatan dan kepastiannya. Terhadap tanda-tanda itu, pertanyaan yang muncul adalah “apa maksud dan manfaat tanda-tanda ini bagi kehidupan manusia?” Jadi, dengan keberadaan tanda-tanda itulah diharapkan agar manusia mau bertanya kepada Allah tentang haqqiqat yang masih terselubung, tentang isi pengertian dan pemahaman atas tanda-tanda itu. Inilah yang Allah maksudkan dengan firman: “…wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 3:191). Bahkan ...menunggu gambar...dalam hal memahami tanda-tanda berupa berbagai bencana yang terjadi di tanah air ini, tersirat pengertian bahwa “tidaklah yang Allah ciptakan (idzinkan untuk berlangsung) itu sia-sia (tak bernilai peringatan dan pelajaran sama sekali).” (Mohon periksa “Peringatan Bencana Gagal Dimengerti Hati Buta”, publikasi Kajian Budaya Ilmu tanggal 15/04/2010 yang masih tersaji di bawah - Admin).
Itulah bukti bahwa fithrah manusia tidak sesuai dengan kebodohan.

Ingin mengetahui, bertanya kepada siapakah?

Hanya orang-orang yang bodoh sajalah yang tidak mempunyai keinginan untuk bertanya kepada Allah. Atau, karena manusia tak mau bertanya kepada Allah, maka jadilah ia bodoh. Sayangnya, sifat ingin mengetahui itu tidak berhasil tersalurkan dengan baik. Dari pada bertanya kepada Allah untuk mendapat jawaban secara tepat dan pasti, jumlah terbesar manusia termasuk ummat Islam memilih azas prasangka dan praduga untuk memperoleh jawaban dari keingin-tahuannya. Padahal sangkaan atau praduga tidak sampai kapanpun tidak akan pernah berhasil mendekatkan manusia pada ketepatan dan kepastian, atau pada kebenaran mutlak, sebagaimana firman-Nya: ”Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran...” (QS 10:36).

Sejak Islam menjadi jaya di tangan Rasulullah Muhammad s.a.w. yang diikuti para sahabatnya dan orang-orang beriman sejati, kebodohan atau kejahilan sudah boleh dikatakan berhasil terkikis. Akan tetapi, berawal dari munculnya teori perkiraan atau sangkaan muncullah kembali kebodohan. Bahkan kebodohan itu sudah mencapai tingkat yang paling dasar. Buktinya, manusia tak lagi mampu merasakan kasih Allah, apalagi untuk menangkap peringatan Allah sebagai rahmat petunjuk atau alat penyelamat kehidupan. Di zaman ini, kebodohan dan kejahilan bangkit kembali berkembang pesat laksana jamur di musim hujan. Penjamuran kebodohan atau kejahilan ini muncul sejak ummat Islam terpukau oleh teori-teori perkiraan atau persangkaan yang dikembang-luaskan oleh Yhd.

Bagi Yhd, tidak salah bila dalam pengenalan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah hanya dapat dicapai pada tingkat perkiraan atau sangkaan. Memang, sampai kapanpun Yhd tidak akan pernah mengenal atau dekat-bersahabat dengan Allah. Mengapa ummat Islam justru turut membeo kepada Yhd? Bukankah kepada ummat Islam, telah Allah bukakan kesempatan seluas-luasnya untuk dapat mengenal Allah secara dekat-akrab-bersahabat di dalam hati? Bagi seorang hamba yang hatinya telah dekat-akrab-bersahabat dengan Allah atau dapat mengenal Allah secara akrab, ia akan dapat memahami tanda-tanda semesta atau ayat kauniyah secara tepat dan pasti pula. Apa yang terjadi akibat ummat Islam terbuai teori perkiraan atau sangkaan? Mereka juga memahami tanda-tanda itu hanya dengan perkira-sangkaan. Pantaslah bila kehidupan ummat Islam berada dalam lingkaran permasalahan dan kesulitan tak teratasi.

Allah tidak menginginkan manusia hidup dalam kebodohan dan kejahilan

Tetapi tanda-tanda alam atau ayat-ayat kauniyah Allah pasti bersifat terselubung. Lalu, bagaimana yang terselubung dapat diketahui secara tepat-pasti, bila azas untuk mengetahuinya adalah mengira atau menduga. Sedangkan satu-satunya yang dapat membuka selubung penyingkap haqiqat hanyalah Allah. Jadi, tidak dapat tidak, untuk mengetahui haqiqat tanda-tanda itu, manusia harus bertanya kepada Allah.

Demikian itulah bukti kasih dan cinta Allah pada manusia. Maka di setiap saat dan tempat, Allah tidak pernah henti-hentinya memberikan tanda-tanda, baik berupa peringatan maupun berupa pengkhabaran gembira bagi orang-orang beriman. Keberadaannya itu merupakan sarana manusia beranjangsana dan berungkap kata dengan Allah. Inilah kenyataan atau realita bahwa Allah senantiasa membimbing dan menjaga manusia agar tetap berada di garis kelurusan. Sikap Allah yang demikian ini merupakan perwujudan dari pada kehendak-Nya: Allah tidak menginginkan manusia hidup terbelenggu oleh kebodohan dan kejahilan. Karena itu, salah satu fungsi diturunkannya para nabi di tengah-tengah kehidupan ummat adalah untuk melepaskan kehidupan ummat dari belenggu kebodohan atau kejahilan.


...menunggu gambar...Tulisan ini adalah rangkuman kajian Ki Moenadi MS di Malang pada tahun 1419 H (1998) merupakan bagian pertama yang berlanjut ke judul "Kebodohan Membuat Manusia Buta terhadap Kasih dan Peringatan Allah". Editor: Taufik Thoyib.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.