Kamis, 15 April 2010

Peringatan Bencana Gagal Dimengerti Hati Buta

...QS 41: 23......QS 41: 23...

Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui sebanyak apapun (segala) dari apa yang kamu kerjakan (QS. 41:22).

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi (QS. 41:23) .


Peringatan Bencana
Gagal Dimengerti Hati Buta


...dropcap P...
eringatan dan pelajaran Allah pasti gagal dipahami bila tak dibaca dengan jujur dan penuh perhatian. Karena itu pula, peringatan demi peringatan dan pelajaran demi pelajaran yang Allah langsungkan pada manusia lewat berbagai macam peristiwa, seringkali sulit mengakar-tumbuh di hati manusia. ...menunggu gambar...Buktinya, bisa diamati pada perasaan-hati tiap diri. Gejala yang mudah diamati diri: tanda tanya berkepanjangan, keraguan, kegundahan, keluh-kesah, kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, geram-jengkel, kesal, marah, dendam, kecurangan, kekejaman, maksiat, syahwat yang kesemuanya, tak jarang berpuncak pada keputus-asaan. Sebenarnya, peristiwa-peristiwa itu adalah peringatan Allah. Bila belum dipahami, maka peringatan dan pelajaran akan disampaikan Allah lewat berbagai macam kelelahan, penderitaan jasad dan sakit yang dialaminya. Jika dengan peringatan-siksa itu manusia masih juga belum paham, maka Allah langsungkan berbagai musibah-bencana di lingkungan hidupnya.

...menunggu gambar...Sangat disayangkan, kebanyakan manusia termasuk orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman, gagal memahami peringatan dan pelajaran dari Allah dengan tepat. Padahal dalam firman Surat Ali ‘Imraan Ayat 191, orang-orang beriman dituntun untuk senantiasa berdzikir dan merenungi ayat-ayat-Nya. Tuntunan itu adalah untuk berbuat atas dasar kesadaran dari perkataan “tidaklah yang Engkau Allah ciptakan (langsungkan) ini sia-sia (tak bernilai peringatan dan pelajaran sama sekali).”Manusia sesungguhnya senantiasa berada dalam pendidikan Allah selaku Rabb, dan tak ada seorang manusia pun yang tidak gembira dengan petunjuk serba pasti untuk kelangsungan hidupnya. Namun, ada konsekensi dari pendidikan Allah tersebut. Apakah itu?


Manusia dididik Rabb untuk tidak meremehkan tanda-tanda yang digelar-Nya.

Dibimbing pula untuk memohon ampun terhadap kesalahan sikap laku-perbuatan yang pasti akan terjadi akibat manusia gagal memahami peringatan dan memetik pelajaran. Manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya: “…maka jauhkanlah kami dari neraka”.

Rasa-rasakanlah. Barang siapa yang jujur kepada Allah, ia pasti akan sangat bersyukur karena Allah menunjukkan bagaimana memperlindungkan kebodohan dan kesombongannya pada naungan ampunan dan pendidikan-Nya. ...menunggu gambar...Artinya, Allah sendiri yang akan membimbingnya. Maukah manusia jujur kepada yang Maha Mengetahui? Bagi yang masih enggan untuk bersikap jujur, Allah pun mengingatkan: “…bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui sebanyak apapun (segala) dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu…,” (QS 41:22-23). Ketahuilah, berprasangka kepada Al Haqq adalah kemaksiatan tingkat tinggi. Renungkanlah.

Jujurlah: diri manusia tak mempunyai kemampuan dan daya kekuatan apapun.

Mengapa peringatan demi peringatan berupa berbagai bencana gagal dipahami bangsa ini? Sebab, setiap peringatan dan pelajaran datang tak disambut dengan kejujuran. Kejujuran yang pertamakali diperlukan ialah pengakuan bahwa diri manusia tak mempunyai kemampuan dan daya kekuatan apapun. Semua yang dipandang sebagai kemampuan dan daya kekuatan, tak lain berkat segala karunia kepemurahan kasih-sayang Allah pada dirinya. Bila telah disadari, maka ia akan jujur atas segala keterbatasannya di hadapan Allah Yang Maha Agung. Di hadapan-Nya, manusia adalah makhluq ciptaan dengan segala kebodohannya, ketidak-tahuannya, ketidak-pastian penilaiannya, kerendahan derajatnya, kehinaannya dan ketidak-berhakannya atas segala pahala. Apa yang menghambat manusia untuk jujur atas keberadaan dirinya?

Kedengkian-logika-nafsu menghambat kejujuran kepada Allah. Bahkan tak jarang, peringatan-peringatan dari Allah disambut dengan berbagai anggapan yang bersifat menipu diri. Himbauan peringatan “jadikanlah kesalahan dari suatu peristiwa-kejadian sebagai petikan-pelajaran yang tidak akan terulang kembali pada kemudian hari” ternyata berbuah kesalahan yang sama. Itu pertanda bahwa peringatan demi peringatan belum berhasil dicerna ‘aqal apalagi untuk sampai menyentuh di persaan-hati. Sebaliknya yang mengakar dan tersikapi justru sikap beranggap-sangka menipu-daya, beranalisa serta segala bentuk kedengkian-logika-nafsu. Keduanya, merupakan cermin keburukan ketercelaan dan kejahatan akhlaq. Bahkan lebih jauh lagi, kedengkian-logika-nafsu telah tumbuh menjadi berhala-berhala yang selalu dipatuh-taati masing-masing diri manusia di setiap harinya.

Tampilnya sikap nyata berprasangka dan menipu-daya adalah kenyataan bahwa ketidak-jujuran masih dijadikan sebagai alat perisai diri. Atau, diri masih suka bersembunyi di balik kedustaan. Sikap itu semakin nyata terlihat ketika nafsu sedang ditelanjang-permalukan dengan mengalami peristiwa pahit dan menyengsarakan. Di saat itulah nafsu berupaya mencari pembelaan diri. Contohnya, ketika nafsu diminta agar jujur mengakui kesalahan diri di hadapan Allah. Dengan terpaksa nafsu menga-kui akan kesalahannya, tetapi tidak seutuhnya atau apa adanya. Mengapa? Karena nafsu takut dipermalukan. Padahal, acap kali ia hanya dipermalukan oleh bisikan-bisikan syaithaan pada hatinya, karena syaithaan sangat gigih menghalangi manusia untuk mendekat Allah. Nafsu yang gigih mempertahankan harga-dirinya pasti akan masuk dalam pelukan bujuk rayu syaithaan.

Lalu, logika-nafsunya membuat pembelaan dengan cara menyamarkan kesalahan diri. Tujuannya, agar tidak terpandang bahwa dirilah yang seutuhnya bersalah. Dalam hal ini, kenyataan apa yang tak disadari diri?

...menunggu gambar...Empat tulisan "Peringatan Bencana Gagal Dimengerti Hati Buta", "Jihad Membuang Pola Perasaan dan Pikiran Berduga-Sangka", "Kesombongan: Buah Berfikir Duga-Sangka yang Menghancur-Binasakan Unsur Ruhaniyah", dan "Rongrongan Iblis terhadap Manusia" yang diterbitkan 30 Rabi'ul Akhir 1431H (15/04/2010) di weblog kita ini merupakan satu rangkaian rangkuman pengajian dari Ki Moenadi MS 1421H (2000), berjudul: "Ketika Unsur Jasadiyah Membuka Persaksian Tersingkap Kejahatan Anggap-sangka yang Menghancur-binasakan Unsur Ruhaniyah". Kami menyediakan tautan untuk mengunduh versi PDF-nya di kolom sebelah kanan. Admin.

2 komentar:

  1. Lebih bagus dan indah dengan huruf asli dari Al Qur'an

    BalasHapus
  2. Jzkumullah krks. Kami bermaksud menyajikan begitu,.. Glagah

    BalasHapus

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.