Renungan di Gerbang Ramadhan (3)
Memahami Ka'bah dari Teori Pythagoras dan Warisan Fir'aun?
Di media internet, beredar berita bahwa kedudukan Ka'bah ternyata sesuai dengan "Golden Ratio" (Pythagoras). Benarkah? Marilah menelaahnya secara jeli, tanpa perlu masuk ke pembahasan teknis. Bilangan dasar penghitungan itu (φ) ternyata telah dihitung hingga sejuta angka di belakang koma, tapi hingga saat ini tetap tak dapat dipastikan sebagai sebuah konstanta.
Bulan Romadhan juga bulan peperangan melawan kebathilan. Kebathilan diri kita sendiri, dan lingkungan kita. Kami mengajak anda untuk menelaahnya secara kritis dalam bentuk sajian multimedia interaktif. Kami berharap kita dapat bersama, bahu-membahu menegakkan yang haqq. Di bagian akhir, kami sekedar melontarkan imbauan atau pertanyaan. Mengapa ummat Islam terbuai ikut mengiyakan Pythagoras? Mengapa justru tak menetapkan Ka'bah sebagai rujukan waktu-ruang? Mengapa mengikuti Greenwich? Ide siapakah itu?
Dalam waktu singkat, insya Allah kami akan luncurkan pula versi video yang dapat Anda unduh dan sebarluaskan. Kami mohon maaf karena versi swf ini sementara tak dapat diunduh, disebabkan keterbatasan pelayanan server kami. Untuk mengikutinya, silakan klik tombol "Baca Lanjut" di bawah. Untuk koneksi internet yang cukup baik, Anda memerlukan kurang-lebih 20 detik waktu unggah -Admin, Glagah Nuswantara.
Rabu, 04 Agustus 2010
Memahami Ka'bah dari Teori Pythagoras dan Warisan Fir'aun?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Merak sering memamerkan keindahan bulunya. Namun ia tak seperti manusia yang selalu berpamrih. Merak tak mencari apalagi mengemis pujian, karena memang begitulah kodrat perilakunya ditetapkan Allah. Apakah dengan narsisisme memamerkan keindahan dan kebaik-hebatan diri, manusia sungguh-sungguh hendak merendahkan martabat pribadinya sehingga lebih bodoh daripada hewan tak berakal? Renungilah:
Perjalanan ruhani jumpa ilaahi Rabbi ibarat menempuh gunung tinggi. Barang siapa lengah, segera ia terperosok ke dalam jurang tersembunyi di balik setiap kelokan dan tanjakan. Sesekali seorang pendaki ruhani pasti mengalaminya, akibat terpukau pemandangan indah perjalanan menju pncak gunung. Taubat dan kesungguhan pengabdiannya kepada Allah, adalah tongkat penopang agar pada pendakian berikutnya, ia makin berhati-hati.
Bagi yang berhati-hati, justru sangat malu mengakui kebaikan yang hanya tampak bagian luarnya bagi orang lain itu. Yang nyata baginya adalah bagian dalam pribadinya dengan segala kehinaan, catat, kekurangan, bahkan ketercelaan yang tak kunjung habis tersoroti cahaya lentera Allah Yang Maha Mulia. Ia makin tersungkur dalam syukur, atas penyelamatan jemari kasih As-Salaam. Karena menyadari segala keburukannya, dengan sendirinya segala pujian manusia tak berbekas apa pun pada perasaan-hatinya. Ia mengharapkan agar manusia yang memujinya mendapat tambahan karunia kemuliaan pula dari sisi Allah Yang Maha Berkepemurahan Kasih Sayang. Ucapannya:

Demikian besarnya perhatian pemimpin sejati akan keselamatan dan kebahagiaan bangsanya, tetapi tidak sedikit yang menyambut dengan ejekan atau cemoohan baik dengan kata-kata maupun dengan sikapnya (dan inilah yang paling berbahaya). Bukankah sikap demikian sama halnya dengan sikap orang-orang munafiq? Sebagai manusia biasa tidak jarang mereka sedikit kecewa dengan sikap bangsanya yang kurang menaruh perhatian, dengan kata lain kurang bersungguh-sungguh untuk bangkit. Namun kesadarannya tidak membiarkan hatinya kecewa. Terhiburlah hati ketika kesadarannya membisikkan, bahwa peran sang pemimpin sejati hanyalah membawa kabar gembira
Begitu banyak kepalsuan. Pemimpin suatu kelompok bangsa yang selalu membantu mereka yang menggelar kebencian, perang, dan penindasan pada bangsa lain misalnya, bisa saja justru tampak mulia bahkan diberi penghargaan sebagai pembela kedamaian ummat manusia. [Taufik Thoyib]. 21 Rajab 1431 / 4 Juli 2010
Sabda Nabi s.a.w. kepada Asma binti Abu Bakar r.a.: "Berinfaqlah. Janganlah kamu menghitung-hitung (hartamu, kikir), nanti Allah akan menghitung (kejelekan-kejelekan) mu. Jangan pula kamu menyembunyikan (hartamu) nanti Allah akan menyimpan (kejelekan-kejelekanmu) untuk dibeberkan di Hari Akhir (Lu'lu' wal Marjan, 1/244).
"Seorang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Adapun orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka." (Tasyiirul Wushuul, 2/88).
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
Sinyalemen hadits tersebut memberikan gambaran bahwa: dari tahun ke tahun yang dapat diberlangsungkan dan diperoleh kebanyakan manusia dari kunjungan Ramadhan hanyalah mendatangkan ritual rasa lapar dan dahaga dari puasanya. Tidak ada perubahan dan pembaharuan berarti yang dapat dibukti-rasakan dalam berkehidupan, kecuali yang selalu muncul hanya keluh-kesah atas kesulitan berantai menjalani kehidupan. Seakan hadits tersebut tampil sebagai kaca cermin besar yang menunjukkan puasa kebanyakan manusia layaknya puasa anak-anak. Anak-anak itu berbangga dalam berpuasa agar memperoleh berbagai hadiah yang diiming-imingkan yang kesemuanya bersifat keindahan dan kesenangan nafsu semata. Ketika bentuk keindahan-kesenangan nafsu tidak terpenuhi mereka kecewa putus asa dan perhatiannya lebih terpaku pada kesulitan yang ditemui daripada kasih Ilaahi.
Untuk itu mari sejenak di bulan yang fithrah ini kita tunduk-renungkan diri hadirkan Allah selaku saksi kejujuran, diri bertanya pada nurani-hati. Pada tingkatan puasa apakah yang sudah berhasil kita langsungkan selama ini? Tentunya masing-masing pribadi beriman tidak hendak puasanya dinilai-persepsikam sama dengan puasanya anak-anak, kecuali yang diharapkan dari berpuasa dapat menghantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah. Namun demikiankah yang diperoleh?
dalam konteks kafir dan tidak, adakah "kebijaksanaan" kafir yang dapat dipakai oleh non kafir? kalau ada bagaimana cara menyikapinya? terima kasih
BalasHapusPengetahuan dan ilmu yang belum bertauhid, diubah-hijrahkan secara bertahap menjadi bertauhid. Jadi, artikel di atas bukan hanya persoalan beriman atau kafir. Tetapi, sebetulnya persoalan menghijrahkan. Mengetahui dengan pasti beda tegas antara yang haqq dan bathil, itu sudah sukar. Lebih sukar lagi, menghijrahkan yang bathil menuju yang haqq, karena hanya yang menempuh hidup haqq saja yang selamat. Tapi, sebagaimana tauladan rasul, bukankah keselamatan bukan untuk diri sendiri? Nah, masalahnya, sudah cukup memadaikahkah persiapan ummat Islam untuk menghijrahkan kaumnya masing-masing? Jadi jalur menghijrahkan itu adalah juga jalur jihad berupa upaya penuh kesungguhan, agar diri sendiri dan lingkungan kaumnya sama-sama selamat. Di dunia hidup bersama/komunal/bantu-membantu untuk saling menyelamatkan, di akhirat hidup individualistik mempertanggung-jawabkan amal masing-masing. Demikian, semoga memuaskan. Taufik Thoyib (kajianbudayailmu@yahoo.com).
BalasHapussaya tertarik pada tulisan bapak "Mengapa justru tak menetapkan Ka'bah sebagai rujukan waktu-ruang? Mengapa mengikuti Greenwich? Ide siapakah itu?". saya orang ndeso yang tidak makan bangku kuliah, terbesit dalam benak saya, "okey, akan saya pakai ka'bah buat rujukan waktu", sayapun mencari perbandingan antara waktu di Saudi arabia dan WIB, dan akan saya pergunakan khusus dalam rumah saya. tapi itu tidak bisa, karena yang sebagai rujukanpun (Mekkah) memakai rujukan Greenwich juga. Dalam kebuntuan pemikiran saya yang ndeso ini, saya ingat ketika waktu kecil pada mbah-mbah jaman dulu yang sangat fanatik dengan jam istiwaq. tapi saya belum tahu banyak mengenai istiwaq. Terima kasih.
BalasHapusAss.wr.wb.,
BalasHapusAlhamdulillaah, ada yang tergerak. Kami bukan ahli agama, juga bukan ahli falak. Sejak delapan tahun yg lalu, saya upayakan untuk mendapat kontak dengan para ahli falak baik di Indonesia maupun di luar negeri. Tanya sana-sisi, namun hasilnya masih nihil; beberapa rekan menyerah. Saya berharap saudara-saudara muslim yang punya keahlian ilmu bumi/falaklah yang akan mempelopori perubahan itu. Islam mesti menjadi pedoman muslim mengkhalifahi dunia. Bagi kita yang awam dalam hal falakiyah, tentu tidak mampu untuk berbuat sejauh itu. Bagi kita, sudah sangat baik untuk melestarikan cara penghitungan jam istiwa' (yang di masjid-masjid tua malah saya saksikan, banyak yang tak cukup baik perawatannya). Paling tidak, dengan merawatnya, kita tidak fanatik-buta thd Greenwich. Kami pun belum ada yang mendalami/belajar khusus tentang jam istiwa', mohon maaf atas keterbatasan kami. Apabila kami mempunyai informasi cukup, akan kami sampaikan. Mohon e-mail bapak. Suatu saat nanti, selama kaum muslim memperjuangkannya dengan penuh kesungguhan, yang haqq pasti muncul pak. Yang bathil pasti lenyap. Salam hormat, Galih W. Pangarsa.
Asslm..
BalasHapusRasulullah Muhammad SAW bersabda: makanlah ketika terasa lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Sementara itu terdapat 'teori-pengetahuan umum' yang mengharuskan pola makan 3x sehari: pagi, siang dan malam.
Maka bisa kami katakan bahwa pandangan teori pitagoras - fir'aun digunakan untuk memahami hal ihwal KA'BAH dan juga berbagai perihal ayat-lain di kehidupan diPASTIKAN akan menimbulkan berbagai ketimpangan dan kepincangan. Apa pasal? karena teori pitagoras-fir'aun mustahil bertolak dari nilai2 yang HAQ. Bagaimana akan bertolak dari yang HAQ? Sementara diri mereka justru memproklamirkan sebagai tuhan. Padahal kebenaran itu datangnya dari RABB. Allah SWT.
Walhasil..teori, saran, pandangan dan juga prilaku yang tidak bertolak dari nilai yang HAQ dipastikan akan menimbulkan berbagai ketimpangan, kedzaliman, kerusakan. Pertanyaannya bagaimana potret kehidupan sekarang ini terbentang di hadapan mata? Dalam bentuk yang SERASI, SELARAS, BERKESETIMBANGAN? ATAU JUSTRU SEBALIKNYA!!
Jadi 'teori' ruang dan waktu 'makan' 3 x sehari perlu juga kita geser dengan budaya makan ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang..Jazakumullah. Mohon maaf atas kesalahan dan kehilafan. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kekuatan dan kemudahannya dalam menjalani kehidupan ini. Marhaban Ya.. Romadlon.. Wassalam.
Wa'alaikum salam wr wb.,
BalasHapusTepat sekali, seluruh aspek kehidupan manusia sudah terjungkir balik. Yang haqq dipandang salah, yang bathil justru jadi tolok ukur kemajuan (maju makin dekat neraka...). Yang mengkhalifahi ummat manusia sekarang sebenarnya YHD-NSR. Millah (pandangan hidup/keilmuan, kebudayaan-peradaban)-nya diikuti hampir seluruh manusia.
Di zaman ini, kekhalifahan ummat manusia mesti diambil alih (kembali) oleh kaum muslimin. Inilah agenda bersama. Sayangnya belum ada kekompakan derap langkah. Bukan membuatnya sebagai satu negara. Yang sangat penting ialah agar nilai-nilai islami-lah yang memimpin kehidpan manusia dan semesta. Bila dipimpin millah mereka, pasti terjadi kerusakan total (bahkan bisa saja qiyamat qubra).
Dari mana kita mulai? Dimulai dari dari diri sendiri, sekaligus mengimbaskannya ke lingkungan. Kita kembalikan (perangi) hal-hal bathil (sekecil apapun) yang mampu kita jangkau (sesuai kesanggupan masing-masing) kepada sunnah Allah dan Rasul-Nya. Itulah jihad yang pasti berbuah perbaikan.
Mem-furqan sesuatu hingga tampak jelas-tegas haqq-bathilnya, lebih mudah daripada menghijrahkan sesuatu dari yang bathil menuju yang haqq. Minazh-zhuluumati ilaa nuur.
Kami juga mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidak-tepatan janji kepada pembaca semua, termasuk pak Lukman. Terimakasih.
Galih W. Pangarsa
Koordinator
Bismillahirrahmanirrahim........................Allaaaaaaaaahu Akbar 3x
BalasHapusyun'am218@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiiraa, takbir anda menambah kekuatan takbir kami yang sedikit. Semoga barokah Allah tercurah selalu kepada anda. Admin -Glagah Nuswantara (kajianbudayailmu@yahoo.com).
BalasHapusalhamdulillah, sudah lama saya tunggu kedatangan beritanya, akhirnya muncul jua. Doakan agar silaturahmi terjalin kembali. Salam dari anak jenengan syaiful bahri - anik purnawati dulu di tegal gondo sekarang di ponorogo tepatnya smk pemkab ponorogo
BalasHapusAssalamu'alaikum wr.wb., Alhamdulillah, semoga kontak silaturahim bertambah luas dan kuat. Salam dari sahabat-sahabat di Malang. Taufik Thoyib
BalasHapusmaaf kayaknya anda ada yang keliru. phi golden ratio=1,618 dan diperoleh dari deret ukur fibonaci sedangkan pi phytagoras 3,14 dari 22/7. terimakasih
BalasHapusJazakumullah kr.kts. Benar koreksi Anda, memang lebih rincinya demikian. Kami potong kompas saja, dengan menghubungkannya ke "golden pyramid" (Giza dan beberapa piramid Fir'aun, yang mempnyai "shape" 3:4:5, sebagaimana yang rumusan segitiga siku Pythagoras). Ternyata jawaban terhadap pertanyaan Anda telah ada bila Anda "menghover" (meletakkan kursor di atas) judul artikel "Memahami Ka'bah dari Teori Phytagoras", pada menu "Ringkasan Tulisan 1431H" di kolom kanan atas. Untuk itu Anda perlu mengklik tombol "Sya'ban". Namun demikian, bila telah sempat, insya Allah nanti kami tambahkan detilnya, agar lebih jelas. Sekali lagi terimakasih. Salam, Glagah Nuswantara.
BalasHapus< Tambahan jawaban ttg Pythagoras, sambil menjawab pertanyaan Bpk. Ruslan Bachtiar 2 November 2010 09.17 di "Menghancurkan Kesombongan Bangunan Millah " (Sabtu, 30 Oktober 2010) >
BalasHapusAssalamu'alaikum wr.wb. Tidak mengapa, sepanjang dalam batas kemampuan, sudah menjadi kewajiban kami membantu.
Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci itu pusat (qiyaamaa) bagi manusia... (QS 5:97). Hadits-nya riwayat Abdullah Umar: ”Tatkala Allah menurunkan Adam dari surga, Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan bersamamu satu rumah dan tempat perhentian yang akan dikelilingi (thawaf) di sekitarnya sebagaimana arasy-Ku dikelilingi. Kemudian dia dijadikan tempat sholat...” Itulah satu-satunya tempat (titik) di muka bumi sebagai rujukan waktu-ruang (kiblat sholat; sedangkan sholat sudah ditentukan waktunya; jadi Ka'bah adalah titik referal/rujuan waktu-ruang, bukan Greenwich yg menjadi GMT).
Perbandingan antara tinggi piramida-piramida Fir'aun (Giza dan lain-lainnya) diukur ke bidang dasar [h], dengan jarak antara titik proyeksi puncak itu di dasar tegak lurus ke titik tengah sisi bujur sangkar dasarnya [b], dan dengan jarak antara titik tengah sisi dasar itu ke puncak pada bidang miring atau sisi miring piramida [a] mempunyai rumusan tertentu. Rumusan itu ialah b:h:a = 1:√φ:φ, atau 3:4:5, atau 1:4/л:1,61899.
Demikian kami sekaligus menjawab tuntas komentar dari Anonim yg mengatakan... " maaf kayaknya anda ada yang keliru. phi golden ratio=1,618 dan diperoleh dari deret ukur fibonaci sedangkan pi phytagoras 3,14 dari 22/7. terimakasih", ditulis pada 17 Oktober 2010 12.56, pada "Memahami Ka'bah dari Teori Pythagoras dan Warisan Fir'aun?" Karena yang kami maksud ialah pemakaian rumus Pitagoras pd piramida (khususnya rumus segitiga siku pada penampang tegak lurus piramida Fir'aun, bukan hanya pemakaian φ dan л.
Ada satu lagi kriteria Nusantara: daerah bersungai-sungai, sbgmana gambaran surga dlm Al Qur'an. Sungai-sungai hanya terdapat di daerah pulau-pulau Nusantara. Jadi Australia tidak tidak termasuk Nusantara dan berbeda ciri masyarakat alam dan manusianya.
Demikian, semoga bermanfaat. Glagah Nuswantara -Admin.