Rabu, 16 November 2011

Iman dan Taqwa?

Iman dan Taqwa?



Secara susunan kata atau kalimat, “iman dan taqwa” berhasil dinobatkan sebagai azas kehidupan. Sebatas slogan, terpukaulah seluruh mata dan telinga orang yang awam atau bodoh. Tetapi orang-orang yang mata hatinya telah tersingkap (yang imannya iman sejati) mendengar dan menyaksikan penobatan atau perumusan iman dan taqwa sebagai landasan atas kehidupan, hanya dengan ekor mata. Sementara hatinya pedih, seakan tersayat melihat kata-kata iman dan taqwa hanya dijadikan topeng-topengan menipu diri dan menipu berjuta-juta ummat yang bodoh.

Iman dan taqwa yang dinyatakan oleh mereka yang hatinya telah tersingkap, adalah suatu kenyataan. Itu tak dapat diingkari secara pandangan mata kepala. Apalagi bila dilihat dengan mata hati. Berbeda dengan yang dinyatakan oleh perkiraan atau sangkaan. Tidak sedikitpun kata-kata iman dan taqwa yang telah berhasil dibobatkan sebagai azas kehidupan, berhasil pula diwujudkan-nyatakan dalam sikap perilaku hidup sehari-hari. Semakin gencar kata-kata iman dan taqwa digalakkan dalam setiap arena dan kesempatan semakin banyak kebohongan yang dipertontonkan pada perilaku. Tidakkah cukup bukti bahwa iman yang dilontarkan adalah iman menipu diri dan menipu berjuta-juta ummat yang bodoh? Cukuplah sudah kata-kata iman dikorbankan sebagai alat penipu diri dan penipu berjuta-juta ummat. Kini tiba saatnya, iman yang selama ini dijadikan alat pembungkus penipuan, akan menyingkap segala tindak penipuan.

Penyingkapan terhadap penipuan yang selama ini dibungkus dengan kata-kata iman dan taqwa sudah barang tentu hanya dapat dilakukan oleh iman sejati. Meskipun selama ini hanya segelintir iman sejati yang berhasil tumbuh di dalam diri manusia, tetapi keberadaan iman sejati yang segelintir itu telah cukup untuk dijadikan tiang Islam. Namun ada yang perlu diketahui. Jangan disangka segelintir iman sejati yang berhasil tumbuh dapat menikmati pertumbuhannya dengan segala keleluasaan atau kemudahan. Tidak sedikit penganiayaan dan penyiksaan yang dilancarkan kepada segelintir iman sejati yang baru saja merangkak tumbuh. Bahkan terorpun senantiasa dihadapkan kepada segelintir iman sejati yang sedang mengadakan pertumbuhan, sejak dari teror pembunuhan terhadap lahan tempat iman sejati tumbuh (dirinya sendiri) sampai kepada teror pembunuhan terhadap lahan-lahan yang dikasihi yaitu orang-orang yang sangat dicintai.

Bukan saja sebatas teror pembunuhan, nyawapun menjadi korban atau modal untuk kesuburan tumbuhnya iman sejati. Demikian itulah yang dipertaruhkan oleh segelintir iman sejati untuk mempertahankan hidupnya. Dalam hal ini keberadaan tindak penganiyaan, penyiksaan maupun pembunuhan tidak mengubah gerak getar pertumbuhan iman sejati, karena akar dari iman sejati itu sendiri telah tertancap dan berakar di lorong hati yang tak mampu disidik mata kepala. Di lorong hati itu pulalah iman sejati tumbuh dengan berselimutkan keridhaan Allah. Bagi seorang hamba yang di dalam hatinya telah berakar iman sejati, tidak ada lagi yang terpandang dan tidak ada lagi yang terasa kecuali hanya keridhaaan Allah. Sekalipun penganiayaan dan penyiksaan terus menerus menteror dirinya, tetapi rasa dianiaya ataupun rasa disiksa tidak pernah terasa di hatinya. Mengapa? Karena iman sejati telah tampil selaku tameng atau pelindung bagi dirinya. Keadaan seorang hamba yang demikian ini seirama dengan pernyataan firman Allah yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Kami Allah atau dengan kata lain ada orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mempersiapkan diri hanya untuk menerima keridhaan Kami Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” QS.2:207. Kepada mereka-mereka inilah Allah mempercayakan tegak-kokohnya tiang kelangsungan ruh Islam untuk hidup dan tumbuh secara berlanjut dan berkesinambungan, hingga berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Dalam pandangan mata kepala, seorang hamba yang dipercaya Allah untuk menegak-kokohkan tiang kelangsungan kehidupan ruh Islam, kehidupannya lebih banyak diterpa penderitaan dari pada diterpa kebahagiaan. Benarkah? Tidak. Karena dalam pandangan mata kepala, kebahagian yang dimaksud kebahagian nafsiyah. Sedangkan haqiqinya, kebahagian ruhaniyah itulah yang telah menjadi pengayom dalam langkah kehidupannya.

Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 14/10/1998 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang. Tulisan ini merupakan bagian akhir dari tiga tulisan. --Admin

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.