Jumat, 05 Oktober 2012

Cemas-Takut: Awal Bergulirnya Guncangan Kehancuran



Contoh manusia melakukan rekayasa penipuan terhadap alam ialah laut ditambak atau ditimbun, dengan maksud agar dapat menghasilkan suatu pemandangan indah di tepi pantai, atau mendirikan kawasan perumahan mewah. Saat itu alam memang tidak dapat berbuat banyak, seakan alam pasrah pada kehendak manusia. Tetapi tiba masanya rekayasa penipuan manusia itu akan di kembalikan alam dengan bentuk gelombang besar atau ombak besar. Bagaimana jelasnya alam berganti menipu manusia?

“(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat,: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala-kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." (QS. 8:12)


Cemas-Takut: Awal Bergulirnya Guncangan Kehancuran





etahuilah, bahwa abad sekarang ini adalah abad manusia buta terhadap nilai-nilai kebenaran. Ilmuwan, ulama maupun tokoh masyarakat banyak yang tidak atau belum mengetahui hakekat sesuatu. Memang, tidak semua manusia mengetahui sesuatu secara tepat apalagi pasti. Sementara itu, masyarakat kini justru makin cenderung untuk menggandrungi-bentuk rekayasa atau penipuan. Anehnya mereka yang paling banyak menyukai hal-hal yang bersifat rekayasa atau penipuan itu adalah para ilmuwan. Bahkan untuk bisa hli atau mahir menyusun kerangka rekayasa atau penipuan, mereka tidak segan mendapatkannya melalui dunia pendidikan. Untuk mengkaji kerangka rekayasa atau penipuan itu, tak jarang ketekunan manusia melebihi kesungguhannya beribadah kepada Allah. Tidak sedikit waktu yang seharusnya diisi untuk berkegiatan untuk Allah, dicuri untuk menekuni kerangka rekayasa atau penipuan. Bahkan seluruh waktu, tenaga, dan harta habis demi diraihnya kemahiran menyusun kerangka rekayasa atau penipuan, sehingga sukses. Akibatnya, ketika datang ajakan atau imbauan untuk bangkit dari lembah penipuan menuju puncak perjuangan kebenaran, ummat Islam tertatih-tatih laksana anak yang baru belajar berjalan. Padahal, apa yang dihadapi ummat manusia saat ini memerlukan penyelesaian; apa yang diketahui manusia jauh dari hakekat, karena hanya berdasarkan mata kepala yang berlingkar-lingkar dalam bentuk kerangka rekayasa atau penipuan. Hal itu datang ke dalam maupun pada lingkungan di luar diri. Oleh sebab itu, seyogyanya jangan mengira bahwa kita sudah bersih dari bentuk-bentuk penyusunan rekayasa atau penipuan.


Selama logika si pembantu fikir nafsu tercela masih bercokol di dalam diri --meskipun dalam ukuran yang sangat sedikit-- selama itu pula bentuk rekayasa atau penipuan masih akan bermunculan. Biasanya rekayasa atau penipuan itu akan muncul di dalam diri di saat-saat manusia hendak memutuskan sesuatu secara tepat dan benar. Inilah yang sangat membahayakan. Satu-satunya senjata ampuh untuk melumpuhkan rekayasa atau penipuan adalah kecerdikan. Dengan kecerdikan itu pulalah para hamba Allah dapat membedil rekayasa atau penipuan yang selalu muncul setiap hendak memutuskan sesuatu dengan tepat dan benar. Namun kecerdikan itu sendiri sangat sulit masuk ke dalam diri manusia jika ia sulit untuk ridho terhadap apa-apa yang Allah langsungkan kepada dirinya. Ketidak-ridhoan manusia terletak saat penekanan-penekanan dilancarkan atas nafsunya. Seringkali muncul rasa kecil hati, kecewa, putus asa, tertekan atau menyimpan perasaan merusak lainnya, sehingga akhirnya menggumpal dalam hati sebagai kotoran penghambat petunjuk Allah ke dalam hatinya. Sikap-sikap demikian itulah yang memagari masuknya kecerdikan ke dalam diri manusia. Meskipun sebelumnya manusia telah menyatakan ridho terhadap apa saja yang Allah lakukan terhadap dirinya, tak jarang kenyataannya itu adalah rekayasa atau penipuan. Saat terselip di hati bahwa dari suatu perbuatan dirinya akan mendapatkan hal-hal yang menguntungkan diri, saat itu pula ucapan seseorang adalah ucapan berpamrih, bukan ucapan yang lahir dengan keikhlasan. Perbuatan ikhlas adalah perbuatan tanpa pamrih. Inilah bukti diri kita belumlah bersih dari bentuk-bentuk rekayasa atau penipuan.

Rekayasa atau penipuan tidaklah sama artinya dengan siasat, meskipun hasil siasat sekilas pandang tampaknya sama dengan hasil rekayasa atau penipuan. Hasil rekayasa atau penipuan diperoleh dari perasan dan cernaan logika. Sedangkan hasil siasat diperoleh dari kecerdikan. Jika rekayasa atau penipuan di satu sisi memberikan keuntungan pribadi, pasti di sisi lain ada pihak yang dirugikan. “Win-win solution” bisa menjadi sekedar kedok untuk mendapatkan keuntungan bersama dari pihak yang terkalahkan oleh rekayasa atau penipuan bersama. Berbeda dengan siasat. Siasat memberikan hasil tegaknya kebenaran dan keadilan. Tidak ada pihak yang dirugikan dan tidak ada pula pihak-pihak pribadi yang diuntungkan. Demikian itulah gejolak perubahan pandangan hidup yang terjadi di abad sekarang ini dari kehidupan yang bernilai kebenaran sedikit demi sedikit diganti dengan kehidupan bercorak rekayasa-penipuan.

Ada satu hal yang sangat memprihatinkan kehidupan manusia abad sekarang ini. Keilmuan, sebagai satu-satunya mata air tempat penggalian nilai kebenaran ternyata menjadi tempat penyusunan rekayasa atau penipuan. Keilmuan yang seharusnya menjadi tulang punggung ukuran kebenaran dalam berkehidupan, kini menjadi pondasi susunan rekayasa atau penipuan. Jadi sekarang pelopor dunia rekayasa atau penipuan adalah keilmuan. Bahkan dapat dikatakan bahwa induk dari segala macam bentuk kerangka rekayasa penipuan adalah keilmuan. Sayangnya para ahli ilmu tidak menyadari, jika yang mereka lakukan di dalam sendi-sendi kehidupan adalah hal-hal yang berbau rekayasa atau penipuan. Mereka justru memandang jika berhasil menyusun kerangka rekayasa atau penipuan tingkat tinggi yang tidak mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat awam, adalah kebenaran mutlak.

Demikianlah karena terbiasa dengan tradisi rekayasa atau penipuan, maka setiap kali disajikan kepada mereka nilai-nilai kebenaran pasti, mereka pun akan beranggapan itu adalah hal-hal yang dibuat-buat atau direka-reka. Wajar bila mereka mengatakan hal yang benar itu adalah hal yang dibuat-buat atau di reka-reka. Karena, mereka tidak menyadari bahwa hal yang di-buat-buat atau di reka-reka sebenarnya sama dengan membuka aib atau topeng dirinya, yang selama ini mereka lakukan tentang apa saja dasarnya dibuat-buat atau rekayasa. Disinilah keterbalikan cara pandang abad manusia sekarang ini, benar dalam pandangan abad manusia sekarang adalah apa-apa yang diperas dan dicetak melalui proses rekayasa atau penipuan. Bentuk kehidupan demikian ini telah berlangsung berabad-abad lamanya khususnya ummat Islam sedikit demi sedikit digeser cara pandangnya dari nilai-nilai kebenaran ke bentuk rekayasa atau penipuan, tidak terkecuali ummat Islam selama ini terjebak dalam lingkaran penipuan yang direkayasa. Bila dinyatakan dengan tegas, maka tidak satu pun dari bentuk-bentuk kehidupan yang ada saat ini berdiri di atas pondasi kebenaran. Atau, hampir seluruh kehidupan ini telah diwarnai dengan rekayasa penipuan, termasuk kehidupan alam tidak luput dari bentuk-bentuk penipuan. Alam juga menjadi korban rekayasa penipuan manusia yang dilancarkan lewat jalur keilmuan. Karena kehidupan alam telah diperkosa dengan penipuan yang diambil dari buah pemikiran rekayasa-penipuan manusia, maka akan datang pula saatnya kehidupan alam mengembalikan seluruh paket rekayasa-penipuan itu kepada manusia. Beranti, alamlah yang akan melakukan penipuan terhadap manusia. Untuk berganti melakukan penipuan pada manusia, alam tidak membutuhan waktu yang lama. Dalam waktu seketika dengan tidak diduga-duga tipuan yang dilancarkan alam jatuh menimpa manusia. Itulah bencana yang datang tiba-tiba.

Mengapa begitu cepatnya alam melancarkan penipuan terhadap manusia? Alam tidak membutuhkan waktu untuk menyusun rekayasa penipuan. Bahkan rekayasa atau penipuan yang dilepaskan manusia terhadap alam, seluruhnya akan dikembalikan alam kepada manusia. Sekali mengembalikan rekayasa penipuan terhadap manusia, alam bisa memporak-porandakan kehidupan yang telah dibangun dengan rekayasa penipuan dalam waktu yang cukup panjang. Apabila manusia hendak melakukan penipuan baik terhadap sesamanya maupun terhadap alam, tidaklah ia dapat melakukannya secepat alam melakukan penipuan. Untuk melakukan suatu penipuan, manusia membutuhkan jangka waktu pendek maupun jangka panjang dalam suatu kerangka rekayasa-penipuan yang tersusun rapi. Bahkan manusia memerlukan waktu khusus untuk mengkaji dan mempelajari rekayasa penipuan melalui dunia pendidikan. Selama ini manusia tidak menyadari jika bencana yang ditimbulkan oleh alam merupakan hasil pengembalian alam terhadap rekayasa atau penipuan manusia terhadap alam. Contoh manusia melakukan rekayasa penipuan terhadap alam ialah laut ditambak atau ditimbun, dengan maksud agar dapat menghasilkan suatu pemandangan indah di tepi pantai atau kawasan perumahan mewah. Saat itu alam memang tidak dapat berbuat banyak, seakan alam pasrah pada kehendak manusia. Tetapi tiba masanya rekayasa penipuan manusia itu akan di kembalikan alam dengan bentuk gelombang besar atau ombak besar. Begitu pula ketika alam direkayasa atau ditipu dengan dikuras atau diambil kandungan buminya untuk kemakmuran bangsa. Ternyata, hasil alam digunakan untuk kemakmuran pribadi atau suatu kelompok. Saat itupun alam memasrahkan hasilnya untuk dikuras. Tetapi berganti waktu, alam menimbulkan bencana terhadap rekayasa penipuan tersebut baik berupa banjir lumpur maupun berupa kebakaran panjang yang sulit dikendalikan oleh alat mutakhir bentuk apapun.



Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 01/05/1998 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang -Admin

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.