Jumat, 11 Januari 2013

Ilmu Manusia Hanya Melahirkan Permasalahan?


Kekayaan alam negeri ini ternyata dikuasai asing. Inikah bukti terapan keilmuan intelektual negeri yang mayoritas penghuninya muslim ini? Pantaskah ilmu melahirkan permasalahan? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan sangat menyayat perasaan –khususnya, bagi kaum intelektual yang memiliki perasaan. Kaum intelektual selaku pencinta ilmu, jika mereka memang masih memiliki perasaan, pasti tidak akan bisa menerima pernyataan “ilmu melahirkan permasalahan”. Apa beda keilmuan yang dibangunan oleh manusia modern dengan persangkaan kedengkian-logika-nafsunya dengan keilmuan Allah yang menyertai penciptaan semesta milik-Nya?

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka" (QS. 53:23).


Ilmu Manusia Hanya Melahirkan Permasalahan?





ampir semua orang di muka bumi bisa dan mudah mengatakan “kebenaran”. Tetapi sangat sedikit dari jutaan manusia di muka bumi itu yang bisa mengetahui kebenaran itu dalam arti sesungguhnya. Buktinya, kebenaran yang sering kali mereka sampaikan sifatnya selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu --seakan-akan kebenaran itu sangat tergantung pada keadaan. Padahal, apa pun dan sampai kapan pun kebenaran tidak akan pernah berubah-ubah karena sifatnya tetap, dan tidak pernah tergantung pada keadaan. Justru haqiqinya, satu-satunya yang mampu mengubah keadaan hanyalah kebenaran. Salah satu sifat kebenaran itu adalah untuk mengubah keadaan untuk lebih baik dan sempurna. Jika kenyataannya keadaan tidak berhasil diubah, itulah bukti bahwa kebenaran yang ada bukan yang haqiqi. Tetapi, kebenaran yang lahir dari sangkaan tingkat tinggi kemudian diolah dan direkayasa.

Dalam pandangan kaum intelektual, apabila suatu “ilmu bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan”, itulah yang dinyatakan sebagai hal kebenaran mutlaq --meskipun pengertian ilmu yang bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan masih dalam tanda petik. Melihat kenyataan, tidak sedikit ilmu yang memang bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan. Tetapi ilmu-ilmu itu berkesudahan dengan dampak negatif bagi kehidupan manusia dan semesta. Bahkan bukan saja sekedar berdampak negatif, tetapi bisa juga mematikan kehidupan dalam arti sangat luas. Masihkah dapat dikatakan setiap ilmu yang bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan, itu pasti ilmu yang benar? Bukankah yang namanya benar itu pasti berakhir tanpa menimbulkan dampak negatif? Berarti, meskipun tampaknya bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan, setiap kegiatan ilmu berkesudahan dengan dampak negatif bagi kehidupan, adalah pertanda bahwa ilmu itu menimbulkan permasalahan di tengah-tengah kehidupan. Mengapa bisa demikian?

Pantaskah ilmu melahirkan permasalahan? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan sangat menyayat perasaan –khususnya, bagi kaum intelektual yang memiliki perasaan. Kaum intelektual selaku pencinta ilmu, jika memang mereka masih memiliki perasaan, pasti tidak akan bisa menerima pernyataan “ilmu melahirkan permasalahan”.

Sebenarnya bila ilmu dikatakan melahirkan permasalahan, hal itu bertentangan dengan salah satu sifat asma yang menghiasi Allah, yaitu pakaian kebesaran Maha Berilmu. Pakaian kebesaran maha berilmu itu Allah pinjamkan kepada manusia. Sehingga manusia pun ikut-ikut berilmu. Allah menerapkan ilmu yang mewujud pada kehidupan bersemesta tanpa menimbulkan masalah satu pun. Tetapi anehnya, mengapa ketika ilmu sampai pada manusia, justru menimbulkan masalah saat diterapkan. Berarti telah terjadi penyimpangan dalam penerapan ilmu oleh manusia.

Dalam penerapan ilmu-Nya, Allah menggunakan kunci Kebenaran-Nya. Sedangkan manusia dalam menerapkan ilmu terlebih dahulu membuat kunci kebenaran melalui olah sangkaan. Dari sinilah awal mula munculnya permasalahan. Dengan demikian, saat keilmuan diterapkan oleh manusia dalam kehidupannya, selalu ada penyimpangan dari kebenaran yang sesungguhnya –yaitu Al Haqq. Sementara hadirnya ilmu di tengah-tengah kehidupan bukanlah untuk menimbulkan permasalahan, justru untuk menghadapi permasalahan.

Dalam pandangan kaum intelektual, antara ilmu dan pribadinya tidak bisa dipisah-pisahkan, seakan-akan antara ilmu dan pribadinya senantiasa menyatu. Kapan ilmunya disinggung otomatis pribadinya akan tersinggung, begitu pula sebaliknya kapan pribadinya yang disinggung mau tidak mau ilmunya pun ikut tersinggung. Dengan demikian kapan ilmu dinyatakan melahirkan permasalahan sama halnya mengatakan dirinya hanya melahirkan permasalahan.

Itulah sebabnya tidak seorangpun kaum intelektual yang dapat menerima pernyataan “ilmu melahirkan permasalahan”. Hal demikian itu bukan berarti salah, justru demikian itulah sebenarnya. Haqeqat atau fungsi dari pada keilmuan berada di tengah-tengah kehidupan manusia, adalah untuk menyelesaikan tuntas setiap permasalahan yang muncul. Dapatkah manusia khususnya kaum intelektual mempertanggung-jawabkan fungsi atau haqiqi keberadaan ilmu yang demikian itu? Inilah yang sulit dijawab dengan tepat oleh mereka. Meskipun secara lisan sangat mudah untuk dijawab, tetapi bila kenyataannya permasalahan semakin tumpang tindih, berarti jawaban itu hanya menambah besarnya lubang permasalahan. Dengan demikian agar lubang permasalahan tidak semakin melebar maka satu-satunya upaya yang harus dilakukan adalah menjadikan ilmu bukan hanya sebatas pada pernyataan, tetapi bagaimana agar keilmuan itu benar-benar dapat diterapkan dengan fungsi menyelesaikan permasalahan. Itulah yang sangat sulit diterapkan. Jika demikian, berarti pernyataan “setiap ilmu yang bisa diwujud-nyatakan dalam kehidupan itulah kebenaran” tidaklah tepat. Buktinya permasalahan bermunculan. Yang mengundang hadirnya permasalahan di tengah-tengah kehidupan adalah adanya sikap penyelewengan terhadap Kebenaran Haqiqi.

Demikianlah suatu ketetapan yang harus dan pasti terjadi. Kapan Kebenaran Haqiqi diselewengkan, pasti muncul rantai permasalahan yang sulit diatasi --baik permasalahan yang timbul di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, maupun bersemesta. Begitu pula, kapan permasalahan yang datang tumpang tindih diselesaikannya dengan cara sangkaan atau hipothesa, pasti permasalahan itu semakin berlipat ganda dan merambat cukup luas dan jauh. Sementara itu, daya kemampuan sangkaan semakin terbatas untuk mengatasi permasalahan. Bila sangkaan dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang sedang berjangkit khususnya di negeri ini, maka permasalahan itu tidak akan pernah terselesaikan dengan tuntas --bahkan permasalahan itu semakin meluas berjangkitan. Dengan demikian dapatlah kita merenungkan, mengapa permasalahan di dalam negeri akhir-akhir ini sulit sekali di atasi. Itulah bukti bahwa permasalahan yang timbul hanya diselesaikan dengan berbagai teori sangkaan atau hipothesa. Sementara itu setiap Kebenaran Haqiqi datang hendak meletakkan keadilan sebagai bantuan utama untuk memecahkan permasalahan, selalu dihadang bahkan dipandang sebagai hal tidak manusiawi. Itulah sebabnya di hadapan banyak permasalahan yang timbul di dalam negeri ini, Sang Kebenaran sementara waktu bersikap berdiam diri, sambil tersenyum menunggu bukti. Adakah permasalahan itu terselesaikan tuntas atau sebaliknya tingkat permasalahan itu semakin melebar?



Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 21/6/1998 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang. Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari dua tulisan. Bagian pertamanya adalah Pola Berfikir Sangkaan: si Tua-Renta tak Tahu Arah Perjalanan Hidup -Admin

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh...
    Apabila kebenaran melekat ke dalam sistem, lalu dijalankan, namun tidak ada perubahan keadaan menjadi lebih baik. Bagaimana cara kita sadar bahwa sebuah sistem atau manusia pelaksananya-kah yang kurang tepat?
    Wassalamu'alaikum.

    Bidh Yanisar

    BalasHapus

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.