Kamis, 23 Agustus 2012

Berketaatan Murni, Menyongsong Kebangkitan Kehidupan



Daerah Derweze, yang terletak di tengah Gurun Karakum di Turkmenistan, kaya gas alam. Pada pengeboran pada tahun 1971, ahli geologi Soviet mengeduk ke dalam gua yang penuh dengan gas alam. Tanah di bawah rig pengeboran runtuh, meninggalkan lubang besar dengan diameter 70 meter di 40 ° 15'10 "N 58 ° 26'22 "E. Untuk menghindari terkena sengatan gas beracun, "solusi terbaik" adalah membakarnya. Dampak bakarnya saat itu tak terpikirkan. Sampai sekarang, dampak lingkungan "Pintu Neraka" --demikian pendududuk setempat menamakannya--, tak teratasi. Bencana alam akibat ulah manusia sangat banyak. Di Indonesia, ingatlah kasus Lapindo dengan berbagai usaha mengatasinya berlandaskan pada rekayasa keilmuan hasil perahan logika manusia. Apa hasilnya?

"Kemajuan" yang dinilai manusia, terkadang sebetulnya justru merupakan kebodohan, buah dari kesombongannya. Perlu dipahami mendalam bahwa hanya dengan kebangkitan berilmu murni sajalah kebodohan dan kesombongan di era modern ini dapat dihentikan. Atas ke-maha-kuasa-an Allah, bisa saja dari setiap buah dari kebodohan dan kesombongan berilmu Yhd + Nsr yang hendak atau sedang diterapkan, muncul tantangan atau akibat yang datang dengan tiba-tiba.


“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya". (QS. 2:257)


Berketaatan Murni, Menyongsong Kebangkitan Kehidupan





eyogyanya disadari pula bahwa gerak kebangkitan berlandaskan pada keilmuan murni tidak akan pernah muncul dalam sejarah kehidupan manusia –khususnya dalam kehidupan ummat Islam– jika ketaatan dengan dasar keimanan murni kepada Allah tidak terlebih dahulu terwujud dalam masing-masing jiwa manusia. Namun jangan mempersamakan keilmuan murni dengan keilmuan kampus Yhd + Nsr masa kini. Keilmuan murni adalah gerak pembebasan dzat ketenagaan hidup untuk kembali ke dalam ketetapan Allah. Seluruh nabi Allah sertai dengan gerak kebangkitan berilmu murni.

Gerak kebangkitan berilmu murni ibarat ribuan mata-air yang masih tertimbun oleh tanah, pasir maupun batu. Sedangkan untuk mendapatkan mata-air yang jernih-murni tidak bisa tidak, jalan satu-satunya adalah timbunan tanah, pasir serta batu-batu kerikil harus diangkat. Proses mengangkat penghambat itu adalah gerak aktifitas ketaatan dengan dasar keimanan murni kepada Allah. Khayal dan mustahil bila ada gerak kebangkitan berilmu murni tanpa didahului gerak aktifitas ketaatan dengan dasar keimanan murni kepada Allah. Adakah gerak kebangkitan berilmu murni bagi pribadi?

Yang perlu menjadi perhatian ialah bahwa gerak kebangkitan berilmu murni masing-masing hamba Allah berbeda. Gerak kebangkitan berilmu murni bukan terbatas pada satu cara saja, tetapi sangat luas dan dalam ragamnya, tergantung bagaimana besar kecilnya mata-air yang dapat disibak oleh keaktifan gerak ketaatan berasas keimanan murni kepada Allah. Salah satu hikmahnya ialah bahwa ummat Islam bukanlah ummat yang berwatak mengembik seperti kambing. Dan bahwa ummat Islam kaya akan khasanah keilmuan murni. Sehingga tepatlah bila dikatakan sumber penggalian dan pengkajian ilmu itu hanya ada pada Al-Qur’an yang kemudian dicerminkan oleh pribadi ummat Islam yang senantiasa berupaya mengaktifkan diri dengan gerak ketaatan dan keimanan murni kepada Allah. Sikap yang paling baik adalah apa yang ada pada timbunan mata-air masing-masing diri itulah yang harus digali oleh kesungguhan gerak aktifitas ketaatan dengan dasar keimanan murni kepada Allah. Sekali tergali, barulah kemudian dimanfaatkan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah, yang telah membukakan atau memancarkan mata-air yang selama ini tertutup oleh timbunan tanah, pasir dan batu. Itulah pertolongan yang amat nyata selama ini Allah berikan kepada para hamba-Nya.

Bukti bahwa masing-masing mata-air memiliki hasil yang berbeda ialah dapat dilihat pada alam empirik, seperti gunung misalnya. Ada gunung yang menghasilkan emas sebagai gambaran kemaha-kayaan Allah. Ada gunung yang menghasilkan batu maupun tembaga sebagai gambaran kekuatan Allah. Ada gunung yang menghasilkan api dan magma sebagai gambaran kemahaperkasaan Allah untuk menghancurkan orang-orang yang sombong lagi ingkar. Dan ada pula gunung-gunung yang hanya menghasilkan sayur mayur sebagai gambaran kelembutan dan kedekatan Allah kepada hamba-Nya. Dengan kata lain, ada gerak kebangkitan berilmu murni yang hanya mampu menjangkau untuk kebutuhan dirinya sendiri, ada pula yang mampu menjangkau dan memberikan untuk orang sekitarnya, dan ada pula yang dapat menjangkau dan memberikan untuk seluruh alam semesta. Contoh sangat sederhana tentang besar kecilnya jangkauan mata-air ialah perhatikanlah waduk-waduk pembangkit tenaga listrik, ada yang hanya mampu menerangi ruang lingkup desa, ada pula yang mampu menerangi lingkup ibu kota. Yang pasti, masing-masing mata-air yang telah berhasil menggerakan kebangkitan berilmu murni, bermanfaat dan saling melengkapi. Demikian, sehingga utuhlah ummat Islam dalam gerakan kebangkitan berilmu murni. Gerak kebangkitan berilmu murni hanya diberikan kepada ummat Islam. Itulah salah satu sarana yang Allah berikan kepada ummat Islam untuk mempertahankan kedudukannya sebagai yang paling unggul di atas segala ummat.

Jika mata-air yang telah Allah sediakan sebagai wadah memancarkan gerak kebangkitan berilmu murni terus menerus diabaikan, sudah pasti kedudukan ummat Islam akan merosot jauh menjadi ummat yang tertindas dan manusianya adalah sehina-hinanya makhluq. Sebab satu-satunya perisai ummat Islam untuk mempertahankan kedudukannya sebagai ummat yang paling unggul dari segala ummat dan makhluq adalah dengan MEMPERHATIKAN DAN BERUPAYA SUNGGUH-SUNGGUH MEMBUKA MATA-AIR MATA-AIR DENGAN AKITIFITAS KETAATAN DENGAN DASAR KEIMANAN MURNI KEPADA ALLAH SAJA. Itulah sarana satu-satunya yang telah Allah sediakan sebagai tempat memancarkan gerak kebangkitan berilmu murni. Tetapi sangat disayangkan, sarana yang telah Allah sediakan dengan cuma-cuma, nyaris tidak mendapat perhatian khusus dari ummat Islam –bahkan banyak ummat Islam yang tidak mengenal adanya sarana yang telah Allah berikan kepada dirinya.

Banyak di antara muslim yang ternyata menjadi pemuja keilmuan Yhd+Nsr tanpa pernah menyadari bahwa kaum yang dimurkai dan sesat dari jalan Allah itu telah mengkafirkan mereka lewat keilmuan. Pertanyaan sederhana: apakah dunia kampus mengajarkan iman pada Allah lewat keilmuan? Apakah makin banyak belajar ilmu kampus seseorang makin tebal imannya pada Allah? Apakah ilmuwan kampus dapat menghubungkan ilmunya pada Allah?



Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 28/12/1997 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang. Tulisan ini berlanjut -Admin

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.