Selasa, 28 Agustus 2012

Bentukan Logika Kebodoh-Sombongan Ilmu



Lapindo. Ciri khas munafiq ialah tidak memiliki, bahkan lari dari tanggung-jawab. Apakah dunia kampus mengajarkan iman pada Allah sebagai kandungan keilmuan dan membangun kesadaran mahasiswa anak didiknya untuk mempertanggung-jawabkan terapan keilmuan itu pada Allah? Apakah makin banyak belajar ilmu kampus, dengan sendirinya makin tebal iman seseorang pada Allah? Apakah ilmuwan kampus dapat menghubungkan ilmunya (system of knowledge) pada Allah (system of beliefs)?

Sangat boleh jadi sifat munafiq dibawa oleh ilmu palsu Yhd+Nsr lewat "kampus modern". Apakah dunia kampus faham bahwa mengajarkan hanya sisi intelektual saja dan tak hirau terhadap sisi spiritual suatu keilmuan, berdampak merusak jiwa manusia dan akhirnya pun berdampak merusak alam? Apakah terapan keilmuan di "dunia profesi" dikira tak memerlukan landasan sikap bathiniyah yang berlandaskan tauhid? Cukupkah sikap mencari uang sebanyak-banyaknya (dengan istilah "profesional") dan beribadah (formal) tanpa perjuangan gigih menegakkan Islam? Sadarkah tiap muslim bahwa dakwah bukan hanya urusan mubaligh dan organisasi dakwah? Orang beriman jauh dari menilai dirinya sendiri. Ia serahkan jiwa raganya di atas gelaran tikar permohonan ampun kepada Allah Al Hakiim Yang Maha Bijak Menilai, yang dianyamnya jam demi jam, detik demi detik, sebagaimana tauladan Nabi s.a.w. yang mohon ampun, seratus kali sehari.


“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya". (QS. 2:257)


Bentukan Logika Kebodoh-Sombongan Ilmu Palsu Yhd+Nsr





kibat keangkuhan ummat Islam mengabaikan sarana yang telah Allah sediakan dalam berkeilmuan, jadilah ummat Islam sekarang ini menjadi ummat yang paling hina dari segala makhluq. Sarana keilmuan dalam Islam ialah hati beriman murni. Buktinya nyata keangkuhan ummat Islam kepada Allah ialah pada sikap ummat Islam yang terus menerus mengekor mengembik pada millah Yhd+Nsr. Padahal Allah tidak menghendaki bumi dan isinya diwarnai oleh kebodohan dan kesombongan berilmu mereka. Itulah sebabnya apabila Yhd+Nsr tampil merajalela di muka bumi ini, maka dengan diam-diam Allah munculkan gerakan kebangkitan berilmu murni untuk menangkis dan mematikannya. Langkah-langkah mematikan itu sekilas pandang boleh jadi tampak sebagai langkah tantangan, yang datang secara tiba-tiba. Gerakan kebangkitan berilmu murni bisa saja terarah pada bentukan-bentukan ketenagaan yang dihasilkan dari kebodohan dan kesombongan berilmu.

Dengan adanya gerak kebangkitan itu terjadilah gesekan dan benturan antara gerak dahsyat kebangkitan berilmu murni dengan bentukan-bentukan ketenagaan yang dihasilkan dari kebodohan dan kesombongan berilmu. Secara kasat mata, tantangan atau akibat yang datang dengan tiba-tiba memang lebih mudah diketahui. Tetapi tidak mudah bagi logika untuk menerimanya bila dikatakan itu adalah tantangan atau akibat tiba-tiba dari gerak kebangkitan berilmu murni. Bagi logika, hal itu sering dipandang dan dinilai sebagai kesalahan teknis. Tidak pernah sedikitpun terfikirkan oleh logika adanya desakan dan gesekan dari gerak kebangkitan berilmu murni. Dan tidak pula mudah bagi logika untuk menerimanya sebagai hal kesalahan berilmu. Logika tidak pernah mengenal adanya kesalahan diri, karena kesalahan seringkali dilemparkan kepada fihak lain. Untuk menutupi kesalahan diri atau kebodohan diri sering kali logika mengatakan: “Itu adalah kesalahan teknis”. Demikian itulah kebodohan logika Yhd+Nsr. Padahal setiap muncul guratan atau goresan pena menyingkapkan adanya gerakan kebangkitan berilmu murni, pasti akan menggeser dan membentur bentukan-bentukan ketenagaan yang dihasilkan dari kesombongan dan kebodohan berilmu. Gesekan dan benturan yang dilakukan oleh guratan pena yang mengisyaratkan adanya gerak kebangkitan berilmu murni tidaklah mudah dideteksi secara kasat mata.



Pertanyaan lanjut sehubungan dengan kebangkitan ialah “Apa yang menjadi ukuran mutlak terhadap kebenaran itu?” Jika ukurannya adalah pandangan diri ditambah inti sari dari beberapa pandangan orang lain, berarti keilmuan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai ilmu yang murni, karena ada unsur keterlibatan diri manusia dalam menuangkan keilmuan. Sedangkan masing-masing diri memiliki cara pandang yang berbeda sesuai dengan besar kecilnya keterlibatan diri dalam hal mengukur kebenaran. UKURAN KEBENARAN ITU HANYA MUTLAK SATU. Kapan kebenaran itu terpecah belah, tidak lagi dapat dikatakan sebagai hal yang benar. Boleh jadi yang muncul justru perselisihan pendapat yang tidak pernah ada habisnya. Kemudian dari perselisihan berkembang menjadi saling cela dan saling menjatuhkan antara sesama beriman dan bersaudara. Berarti keilmuan telah gagal mengangkat dan membawa harkat dan martabat manusia pada jenjang atau tingkat kesempurnaan hidup.

Sebenarnya guratan pena yang dipimpin oleh ketangkasan aqal dan kemurnian hati untuk menyingkapkan adanya isyarat gerak kebangkitan berilmu murni bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari pandangan kegelapan hidup menuju pandangan hidup yang terang, yakni jelas dan pasti. “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” QS.2:257. Sudah terlalu lama manusia hidup dalam ketidak-pastian langkah. Akibat tidak adanya kepastian langkah dalam berilmu, dari waktu ke waktu manusia hanya merangkak dan meraba-raba mencari ilmu. Padahal ILMU ITU BUKAN DICARI, MELAINKAN DIGALI DI DALAM PRIBADI YANG MURNI, dengan cara mengaktifkan gerak ketaatan dengan kemurnian kepada Allah saja. Selama ini dalam pandangan manusia, ilmu itu dicari, bukan digali. Bukti ilmu dicari, tidak sedikit dari ummat Islam khususnya yang datang berguru ke tuan-tuan besar Yhd+Nsr, sementara mata-air mata-air yang ada pada pribadinya diabaikan begitu saja tertutup tanah, pasir dan batu-batu kerikil. Untuk mewujudkan tujuan membawa manusia dari pandangan kegelapan hidup menuju hidup yang terang-jelas dan pasti, maka dimunculkanlah gerakan kebangkitan berilmu murni yang akan menggesek, menggeser dan membentur nilai-nilai kebodohan berilmu.

Yang memunculkan gerak kebangkitan berilmu murni serta yang melindungi para hamba-hamba-Nya adalah Allah. Sedangkan yang menggerakkan manusia berkeilmuan bodoh dan sombong serta yang melindungi mereka adalah syaithan. Ciri gerakan keilmuan syaithan adalah membawa manusia dari jalan kehidupan terang menuju jalan kehidupan gelap, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah, yang artinya: “...Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung-nya ialah syaithan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran)...QS.2:57. Karena aktifitas orang-orang berilmu bodoh adalah menghasilkan kerusakan-kerusakan, maka tempat kembali mereka yang abadi juga tempat yang menghasilkan kerusakan, baik itu kerusakan jasmani maupun kerusakan ruhani. Tempat yang abadi itu adalah neraka, itulah satu-satunya tempat yang akan merusak-rusak jiwa manusia. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman Kami, yang artinya: “…Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya,…” QS.2:257. Kegiatan menggesek, menggeser dan membentur bentukan-bentukan ketenagaan yang dihasilkan oleh orang-orang berkebodohan ilmu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dideteksi oleh logika, kasat mata maupun dengan alat-alat canggih yang dihasilkan logika. Tetapi akibat kegiatan tersebut, mata kepala dapat menyaksikan akibat kehancuran puing-puing reruntuhan bentukan-bentukan ketenagaan yang dihasilkan dari kebodohan dan kesombongan berilmu. Meskipun akibat adanya gesekan, geseran dan benturan gerak kebangkitan berilmu murni sudah terlihat di depan mata orang-orang berkebodohan ilmu, tetap sulit bagi mereka untuk menumbuhkan kesadaran akan kesalahan keilmuannya yang sangat fatal.
Tulisan di atas merupakan suntingan Taufik Thoyib dari dokumentasi Kajian Ki Moenadi MS tanggal 28/12/1997 yang disampaikan di Yayasan Badiyo Malang. Tulisan ini merupakan lanjutan. Bagian pertamanya adalah Berketaatan Murni, Menyongsong Kebangkitan Kehidupan -Admin

1 komentar:

Silakan tinggalkan akun valid e-mail Anda.